Sumur Sinaba

Oktober 15, 2009 at 5:43 am 6 komentar


Semakin menyelami sisa-sisa budaya Jawa, semakin seram jadinya. Terus terang saya tergerak mendalami lagi buku-buku yang pernah ditulis ketua Yayasan Sekar Jagad.

Ya, ini masalah apresiasi kita bersama terhadap budaya kita sendiri. Bahwa ada sebagian dari kita yang ternyata lebih mengagungkan budaya lain, mencampuradukkan budaya dan keyakinan. Ini adalah salah satu contoh dari lingkup budaya tempat saya hidup, Budaya Jawa.

DALAM “petung” Jawa ada formula PANCASUDA yang diterapkan untuk menerawang hari kelahiran (weton) seseorang. Hanya saja, entah bagaimana memformulakannya, karena dasar hitungannya ada 5 macam siklus hari:
1. padinan (siklus 7 harian)
2. pasaran (siklus 5 harian)
3. paringkelan (siklus 6 harian)
4. padewan (siklus 8 harian)
5. padangon (siklus 9 harian).

Sekarang paling “banter” tinggal 2 siklus harian digunakan yaitu 5 harian: Kliwon, Legi, Pahing, Pon, Wage dan 7 harian: Radite (Minggu), Soma (Senin), Anggara (Selasa), Budha (Rabu), Respati (Kamis), Sukra (Jumat) dan Saniscara (Sabtu).

Orang Jawa minum dari air yang diusahakan, bukan tadah hujan..:-)

Orang Jawa minum dari air yang diusahakan, bukan tadah hujan..:-)

Kita lihat di budaya timur, hari-hari memiliki nama-nama khas. Dan lucunya sama artinya antara Nusantara (Indonesia) dan Nusajenggi (Jepang). Radhite = Matahari = Nichiyoubi = Sunday, Soma = Bulan = Getsuyoubi = Monday, Anggara = Api = Kayoubi = Tuesday, Budha = Air = Suiyoubi = Wednesday, Respati = Indah, segar, asosiatif dengan pepohonan, vegetasi = Mokuyoubi = Thursday, Sukra = Emas, logam = Kinyoubi = Friday dan Saniscara (Tumpak) = Bumi, tanah = Douyoubi = Saturday.

Beda dengan penamaan hari dari Timur Tengah yang hanya berdasarkan NOMOR HARI = Ahad (1), Senin (2), Selasa (3), Rabu (4), Kamis (5), Jumat (?) dan Sabtu (7).

Tapi bukan itu yang ingin saya angkat dalam tulisan ini. Saya ingin mengemukakan ada satu saat tertentu, orang Jawa jaman dulu dengan berpedoman pengetahuan astronomi praktis bernama PAWUKON, dicocokan dengan bulan, dengan musim (pranata mangsa) dengan 5 macam siklus hari tersebut ada istilah watak suatu hari (berdimensi 5 siklus) bernama SUMUR SINABA 

sosok bangunannya menunjukkan tempat berkumpul dan bebersih

sosok bangunannya menunjukkan tempat berkumpul dan bebersih

Sumur yang “didatangi” dengan maksud baik. Sumur adalah “tempat orang mengambil air dengan menimbanya, dan sumur itu DIGALI agar dapat diambil simpanan air di dalam perut bumi”. Watak itu penjelasannya sebagai berikut: SUMUR SINABA: Luas wawasan, bisa menjadi sumber orang
mencari ilmu. Persepsi saya, suatu tempat yang “sengaja” digali (dipersiapkan) dan dibentuk serta diusahakan agar orang berdatangan kepadanya…. Banyak orang (makhluk bergerak) menyabanya.

Duh, seandainya watak seperti itu melekat pada suatu lembaga pendidikan, khususnya peguruan tinggi… betapa indahnya jika dijadikan VISI. Tanpa banyak aktivitas non-akademik, sudah menjadi tempat orang berdatangan utuk MENIMBA di SUMUR ILMU yang tak pernah kering. VISI sederhana hanya dua kata, dan asli NUSANTARA dengan kata jadian ber-seselan “in”, dari kata dasar SABA (bertandang mencari sesuatu, bisa makanan, bisa apa saja yang positip) diseseli “in” menjadi SINABA..
suatu kata bentukan bersifat pasif bagi subjek (SUMUR) tetapi aktif bagi objeknya (oirang-orang atau makhluk bergerak yang BERDATANGAN, MENYABANYA).

Yaaah, tapi sekarang kan dah nggak jamannya. Lha wong hitungan siklus hari saja tinggal 2 macam yang ditulis di kalender…. itupun tanpa tahu lagi apa makna siklus pasaran dan siklus padinan (7 harian). Dan sibuklah sekarang lembaga-lembaga pendidikan harus berpromosi dengan segala hal…. Bermunculan SBI dan WCU… ups!!! Harapan saya yaaah. paling tidak lembaga pendidikan tidak menjadi SUMUR UPAS.

Memang SEKOLAH itu tidak sama dengan PADHEPOKAN, Guru Besar bukan lagi Begawan, jauh daru sikap¬†Maha Rsi…:-).

sumur beracun yang melegenda

sumur beracun yang melegenda

About these ads

Entry filed under: Budaya, pendidikan, spiritual. Tags: .

Prof. Dr. Ir. Sarjana Utama, MSi. Eskapisme dan Cara Aman Penyajiannya

6 Komentar Add your own

  • 1. soeloyo  |  Oktober 15, 2009 pukul 5:49 am

    Komentar dari AH Darmawan:
    Wah filosofinya dalam sekali Ki…bisa nggak saya maknai begini: sekali seumur hidup, jadilah manusia ibaratnya sumur yang tak habis ditimba airnya [baca: ilmunya]….Tapi di alam nyata ada masalah, kini banyak sumur terimbas krisis air akibat hutan [di atasnya] yg digunduli…Manusia sebagai sumur pun rasanya terkena krisis [cara berpikir] yg luar biasa, akibatnya kini sulit utk menemukan sumur yg sejati…apa yg harus di lakukan Ki?

    Balas
  • 2. soeloyo  |  Oktober 15, 2009 pukul 5:51 am

    Komentar dari Gigih Nusantara:
    SUMUR SINABA adalah sebuah AKIBAT. Cukup banyak sumur tersedia, baik dimunculkan secara alam (sumur tiban) atau sengaja dipersiapkan (digali). Namun ternyata kemaknaan dan kemanfaatan sang sumur itulah yang kemudian menentukan apakah akan DISABA, baik yang dengan tujuan untuk menyerap INTI KEBERADAAN sumur yang bersangkutan, atau hanya sekedar ‘mampir ngombe’, ‘membasuh wajah dan kaki’, lalu selesai. Atau hanya sengaja agar terlihat ‘pernah mampir’, berwisata, hanya untuk mendapatkan ‘pujian’, sekedar pelengkap pakaian (ageman) semata.

    Wibawa sumur itulah hakekat makna dan manfaat sang sumur, dan para priyayi itulah yang secara subjektif memaknai kedatangannya pada sumur tersebut. Lembaga pendidikan adalah salah satu dari sekian pemahamanku mengenai apa dan siapa sebenarnya sumur tersebut. Sebab, ia juga bisa para cendekiawan, yang sikap dan pandang hidupnya memiliki pancaran pesona untuk jadi referensi. Atau ia adalah sebuah paham, ajaran, agama, kerohanian, yang mampu memberikan pencerahan secara hakiki, bukan yang mudah tersalahtafsirkan, secara subjektif, sesuai kepentingannya. Ia juga bisa berbentuk sebuah negara, yang menjanjikan kesejahteraan dan kemaslahatan warganya.

    Dia juga bisa berwujud sebagai sebuah kelembagaan publik, seperti parlemen, mahkamah keadilan, ponggawa praja, yang mampu memberikan kemanfaatan yang dibutuhkan oleh semua keinginan positip warganya. Sumur adalah lambang sebuah KEIKHLASAN. Tak lain…. Baca Selengkapnya

    SUMUR SINABA membuktikan, bahwa sumur tersebut berhasil menjalankan misinya, sehingga keikhlasannya mampu memberi makna dan manfaat terhadap hidup, secara terus menerus, yang membuatnya terus DISABA.

    Ada juga, sssttt…. sssttt…. sumur yang kerap disaba, bahkan jutaan penyabanya, yang lebih karena pemeliharaan kepercayaan yang terus menerus dilestarikan, dengan lebih mirip ‘gugon tuhon’.

    Aku mencoba menyediakan ‘semacam’ sumur, berupa catatan-catatan pengalaman hidup, yang moga-moga bisa jadi inspirasi para generasi muda. Paling tidak terbaca oleh anak-anakku sendiri, agar mereka mengetahui apa saja yang pernah dilalui oleh ayahnya, di blog-ku, edipurwono.wordpress.com. Monggo disabani… ehm… ehm…

    Balas
  • 3. soeloyo  |  Oktober 15, 2009 pukul 5:52 am

    Komentar 2 dari AH Darmawan:
    KDP kira-kira Pimpinan negeri ini dan para bala-balanya di JKT sana bisa menjadi “Sumur yg di-saban-in (dirujuk, dianut, ditimba manfaatnya)” apa enggak ya Ki? Harapan kita mereka mestinya tak lagi sumur, melainkan seperti Oase di padang pasir yg menyejukkan. Atau sebaliknya ya mereka meraup kiri-kanan memperbesar skala kekuasaan dan jadilah “… Baca Selengkapnyabak besar atau sumur besar atau laut” yg berisi air samudra..bila kita makin banyak ‘meminumnya’, mk bukan kesejukan yg didapat. Melainkan, makin kita merasa tercekik kehausan..mudah2an kita mjd “sumur sinaba” yg sejati, meski kecil2 ukurannya, tp memberi manfaat besar bg yg “benar2 kehausan”..

    Balas
  • 4. soeloyo  |  Oktober 15, 2009 pukul 5:53 am

    Komentar 2 dari GN:
    Menjadi ‘sumur sinaba’ bukan sebuah hal yang direncanakan, agar disaba. Kewajiban kita hanya MENCOBA IKHLAS dengan mencoba menyediakan makna dan manfaat. Bahkan konon, makna dan manfaat tersebut tentu bersifat subyektif, sesuai kemampuan yang ada pada diri kita.

    Menjadi SUMUR agar SINABA semata-mata adalah akibat. Semua tergantung kepada kehendak BLIOUW semata. SINABA adalah hasil, dan menjadi sumur adalah prosesm bahkan sebenarnya, adaa;aj kewajiban, sesuai dengan janji kita ketika RUH kita menandatangani PAKTA INTEGRITAS sebagai alasan BLIOUW melepas kita ke dunia. Misi yang kita janjikan kepadaNYA itulaj sebenarnya awal dari proses menjadi sumur, yang jika berhasil memberikan MAKNA dan MANFAAT, jadilah ia sebagai salah satu tujuan, SINABA jejalman.

    Kita berhasrat untuk NYABA, sangat tergantung kepada RASA yang kita miliki. Hasrat tersebut akan memandu kita menuju pada sumur-sumur yang kita idamkan. Pengalaman hidup kita yang banyak terbentur-bentur oleh kenyataan, menghasilkan kearifan untuk mrmilih jalan menuju sumur yang benar, baik, bermakna, dan bermanfaat…. Baca Selengkapnya

    Sesuai dengan misi yang kita janjikan sesaat sebelum ruh kita jatuh ke dunia, maka itulah suratan takdir yang akan terjadi pada setiap orang. Wujud ngilmiahnya adalah DNA, yang saling berinteraksi membangun bakat dan watak yang bersangkutan.

    Para pemimpin dan ponggawa praja, adalah sebuah peran yang didapukkan kepada seseorang, berdasarkan kaidah-kaidah hukum positip yang dibuat sekelompok manusia. Mereka hanya memenuhi prasyarat atas hukum positip tersebut, seperti lolos pilleg, pilpres, pilkada. Namun apakah mereka sumur sejati yang memberi makna dan manfaat, wallahualam.

    Dengan demikian, kita tak perlu terlalu jauh mempertanyakan, apakah mereka sumur yang patut atau tidaknya. Rasa dalam diri kitalah yang menentukan, akankah menimbanya, atau menuju sumur yang lain, ketika eleksi berlangsung. Sementara, soal rasa, itu situasional sifatnya. Super subjektif. Tinggal kita mau mencernanya dalam-dalam, atau ala kadarnya semata, atau terbujuk rayuan gombal?

    Salamku

    Balas
  • 5. soeloyo  |  Oktober 15, 2009 pukul 6:10 am

    Mas, konon kabarnya (seperti yang dikutip Sudjiwo Tedjo dari Yosodipuro tentang siklus jaman Jawa), maka pergantian masa keemasan di Nusantara ini katanya 700 tahun. Barangkali sekarang baru menuju ke sana lagi, mengingat runtuhnya Majapahit baru 500 tahun yang lalu. Keemasan itu akan dialami oleh generasi ke-3 atau 4 atau bahkan 5 dari kita… he he he. Dan mulainya pada tahun surya 2012, katanya sih…
    Tapi bebononya cukup berat, yaitu menghidupkan lagi peradaban Nusantara yang Egaliter, santun, ramah dan sebagainya yang tersirat dalam substansi surah al-Waaqi’ah…. (kejadian dahsyat)
    Kata sementara penekun spiritualitas Jawa, awal mulanya dah diawali dengan DEKLARASI NEGARA RI (18 – Agustus – 1945), sayang pada era kepemimpinan Amien Rais monumen deklarasi itu diamandemen se demen-demennya mereka,… hicks. Ya, kalau digunakan hari deklarasi sebagai hari lahir NKRI, maka akan berwatak SATRIYA WIBAWA. Sedang alau proklamasi wataknya SATRIYA WIRANG… ha ha ha kewirangan terus-terusan…. [kata seorang sepuh konon ketiga pasangan capres-cawapres kemarin itu TIDAK SATUPUN yang PANTAS DIPILIH, tapi harus dipilih salah satu yang sudah diketahui sifat dan wataknya. Tinggal kita bertanya ke sesepuh itu, apa watak dan sifat SBY-BDN agar dapat diwaspadai... yaaah sebagai langkah awal pembuka tabir, silakan simak skandal CENTURY dan NASRUDIN-KPK-Soesno - yang mencerminkan SUMUR UPAS :-)]

    Balas
  • 6. khairul  |  November 5, 2011 pukul 7:39 am

    saya orng nya gmana ya saya lahir tanggal19 08 1997

    Balas

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 18,088 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tidak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terakhir


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: