Idul Fitri 1439 H

Selamat Idul Fitri 1439 H

Iklan

Juni 14, 2018 at 12:16 pm Tinggalkan komentar

Kojah #3

Ai Satsu
Ki Denggleng Pagelaran, May 20, 2001

aisatsuFUKUOKA Kitaro, ya nama itu pemberian Touyama Sensei dengan jalan menterjemahkan nama-ku. Sebagai rumusan atau formula nama binomial, memang tidak sesempurna arti namaku yang aku jelaskan panjang lebar kepada Touyama Sensei, Kimura Senpai, Tada Yumiko, Nishikawa Fuyumi, Hayashi Atsuko maupun para Kohai yang lain. Sayang sekali Ikeda Sensei sebagai Jokyouju (asosiet professor) agak kurang fasih berbahasa Inggris lisan, sehingga tidak dapat menyumbangkan pemikiran formula nama binomial Japonica itu. Pokoknya namaku aku jelaskan sebagai “Sensei, suku bangsa saya kalau memberi nama selalu memiliki makna. Kebetulan namaku ini maksudnya adalah doa kedua orang tua agar nanti anak bungsunya ini selalu ‘dihujani’ atau ‘ditempatkan’ pada derajat yang sejahtera atau happiness. Pokoknya yang happy-happy lah Sensei. Apa kalau nama Jepang juga begitu?”

(lebih…)

Mei 7, 2018 at 5:15 pm Tinggalkan komentar

Jokowi dan Kalajengking

jokowi-pidato_20180503_110842Sekarang saya mau bertanya… Apa komoditas yang paling mahal di dunia? Pasti banyak yang menjawab ‘emas’… bukan emas… bukan emas. Ada fakta yang menarik, yang saya dapat dari informasi yang saya baca. Komoditas yang paling mahal di dunia adalah racun dari scorpion, racun dari kalajengking. Harganya? Sepuluh setengah juta US Dollar per liter. Artinya berapa? Seratus empat puluh lima milyar per liter. Jadi, Pak Gubernur, Pak Bupati, Pak Walikota kalau mau kaya cari racun kalajengking.

(lebih…)

Mei 5, 2018 at 4:46 pm Tinggalkan komentar

Figmentaria #6

Nusantara dalam Evolusi Manusia dalam Kala

300px-Candi_Jago_BKi Hadjar Dewantara, barangkali mewakili pemahaman Jawa dalam hal asal-usul manusia atau asal-usul alam semesta. Memang pada mulanya sebutan untuk Hyang Maha Pencipta bagi faham Jawa adalah Hyang Taya (dalam bahasa Jawa sekarang dipanjangkan menjadi Hyang Tan Kinayangapa, Hyang Tidak Dapat Diperapakan). Faham selanjutnya menyatakan bahwa Hyang Taya melakukan Titah, yang bermakna kalimat, kata-kata, ujaran atau kalam atau qalam azali.

(lebih…)

April 29, 2018 at 4:17 pm Tinggalkan komentar

Figmentaria #5

Sejarah seks

Euglena_gracilisKatanya, menurut ilmu geologi, bumi ketika lahir (atau mengada) di atmosfir dipenuhi CH4 atau CO2. Di keraknya yang semakin mendingin seharusnya materi-2 solid dan pejal, tetapi ledra-ledre saking panasnya. Kemudian air alam dari bebatuan bumi yang mendingin sedikit-demi sedikit terekstrak keluar, kemudian terjadi reaksi di atas atmosfir membentuk ‘air’-air yang turun dari langit (sebagian ahli menduga banyak sumbangan dari air asal potongan es dari komet yang melintas atmosfir bumi) menghujani bumi yang terus mendingin, semakin membeku dan memepat.

(lebih…)

April 28, 2018 at 3:57 pm Tinggalkan komentar

Politik #1: Dewa Amral

Yudistira-Solo-04Saya masih ingat betul di suatu saat dalam kampanye Pilpres 2014, pak PSU ketemu dalang Setan, Manteb Sudarsono dan menerima peraga wayang Wrekudara. Selesai acara (di TV) Ki Manteb ditanya wartawan mengapa menyerahkan wayang Wrekudara kepada PSU, beliau jawab bahwa Pak PSU itu spt Wrekudara.

Lalu ditanya, bagaimana dengan JWI? Ki Manteb jawab sambil guyon: “Oh.. dia Puntadewa (Yudistira Jawa).”

Puntadewa adalah tokoh wayang yang digambarkan ‘aludira seta’, berdarah putih. Dia dihina dan diapa-apakan saja tidak pernah membalas. Diajak perang jawabannya khas: ‘aku ora tau perang’

(lebih…)

April 28, 2018 at 4:01 am Tinggalkan komentar

Figmentaria #4

Sofia – Sufiah = Rupiah [Wirya Arta tri Winasis]

DSC00954Awal mulanya adalah ‘sophia’ (umul ‘ilm) berkembang menjadi ‘supiah’ hasrat untuk berbuat (atau pengin dianggap) selalu baik. Yang karena semangatnya adalah ‘meniru’ bukan mencontoh, yaaah berujung pada ‘rupiah’. Hasrat mengelun dunia fisik dalam artian ‘kaya-raya’ urip sarwa mukti wibawa. Tak sadar bahwa jalan itu adalah ‘ngidak-idak gundul liyan’ (menginjak-injak kepala sesama). Kepala sebagai lambang ‘wirya-arta-winasis‘ (harga diri, kekayaan dan kecerdasan) sesama. Falasifah kejawen (sekali lagi KEJAWEN) yang berformula WAW (wirya-arta-winasis) yang nyleneh bagi sementara orang karena terlalu sederhananya, tapi terlalu amat rumit dalam mencapai, memelihara, meningkatkan ataupun sekedar mempertahankannya.

‘Wirya’ adalah harga diri atau kedudukan insani yang sudah given (disebut jelas bahkan dalam kitab suci agama Islam, ‘laqad khalaqnal insaana fi-ahsani taqwiimiin‘ (QS 95:4). Sesungguhnya ‘Kami’ (Tuhan dan segala kuasanya) telah menciptakan manusia pada sebaik-baiknya ciptaan. Wirya yang dalam bahasa lain diganti dengan ‘warsa’ (hehehe maka nama asli depanku ada unsur kata ini…. warsa – winarsa (diwiryakan), suatu hadiah nama yang tak mungkin menjadi bekas nama), ber makna maqam yang tinggi, kedudukan luhur ‘jiwa sapala‘ sebutir jiwa percikan dari Sang Maha Jiwa.

Dengan kesadaran super-penuh bahkan super sadar ingin dipertahankan dan ditingkatkan mutunya. Tanpa sadar mutu ‘warsa’ itu adalah menurut persepsi sesama saja, bukan berdasar pemberinya (Tuhan). Maka lahirlah visi dalam banyak ajaran, banyak agama. Ambil contoh, visi Kristiani adalah ‘kerajaan cinta kasih‘ tapi banyak orang berhenti sampai pada ‘kerajaan’ saja, sehingga yang muncul adalah kegarangan dalam penerapan ‘misi’ yang berupa ‘pengkabaran’ – Injil – yang pernah terjadi masa lampau bahkan hingga jaman kini. Visi Islam yang ‘rahmatan lil ‘alamin‘ melahirkan misi ‘amar ma’ruf nahi munkar‘ melenceng-lenceng pada tempurung golongan saudara seiman. Peduli amat dengan saudara-saudara lain yang sesungguhnya lebih hakiki, sebagai sesama ‘jiwa sapala‘. Warsa atau wirya telah melahirkan peninggalan-peninggalan megah masa lampau. Mulai dari piramida Egyptian, Mexician, Argentine, Menara Babyl, Blue-Mosque (Timoor Lenk), Taj-Mahal, Basilica, Stovia, Borobudur, Prambanan dan kini (mungkin) Istiqlal. Tak terhitungkan lagi. Atau sebaliknya menjadi penghancuran-penghancuran cermin-cermin ‘Kawiryan’ itu dengan porak porandanya lebih dari separo ‘Egyptian sites‘ dan terakhir peledakan ‘The Great Buddha‘ di Bamiyan, Afghanistan pada Maret 2001 yang lalu!

Kala itulah termaknai sudah lanjutan qalamullahTsumma radadna hu asfala saafiliina‘ (Then We render ‘him’ the lowest of the low, QS 95:5). Manusia mencapai luncuran kedudukan (maqam) yang serendah-rendahnya dari pada kerendahan ‘tempat’. Rendahnya wirya karena ingin meningkatkannya dengan capaian ‘arta’ (kamukten, kekayaan, raja brana) atau ingin dianggap ‘wasis’ (cerdas, ilmiah, ngelmu, isi uteg dll) yang dilaksanakan satu jalur. Melepas dari pandangan atau wawasan kiri kanan atas bawah. Ndlujurrrr seperti kuda terpasangi ‘thesmak’ (penghalang pandangan kuda dari kanan kiri), yang berkesan ‘grusa-grusu‘ dan kadang mengesampingkan MISI dari VISI. Tujuan menjadi serba benar karena lepas dari jiwanya. Maka ada kekecualian ‘Ilalladiina aamanuu wa ‘amilushshaalihaati….’ (potongan QS 95:6) (kecuali orang-orang beriman dan berbuat baik). Aha, ada kesan bahwa orang beriman ada yang berbuat tidak baik lho… hati-hati ini.. jangan dibalik, karena bisa amburadul.

Dan pujangga Jawa, sekali lagi pujangga Jawa, telah menterjemahkan inti QS 95 itu, dalam tembang jawa. Menghindarkan diri dari ‘pelecehan’ keaslian qalam. Bahwa orang yang tak memiliki ketiga nilai dari ‘wirya-arta-winasis’, hidupnya tak kan berarti, ‘aji godhong jati aking‘ (lebih berharga daun jati kering) yang masih dapat dipakai buat bungkus tempe (jaman dulu) setidaknya bungkus ‘bandeng-asin‘ dan ‘conthong gereh teri‘. Setidaknya buat bahan bakar sampah organik bila dikumpulkan sebanyak ‘pauwuhan – pawan’ (lubang tempat pembuangan sampah).

Pemahaman selanjutnya, terserah anda semua!

Salam,

April 28, 2018 at 3:35 am Tinggalkan komentar

Pos-pos Lebih Lama


Menerima

  • 37.557 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tidak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra