Indonesia Maritim #2: Indonesia dalam Bible

perahu-bercadik-borobudurMaka tak mengherankan bila arkeolog Giorgio Buccelati menemukan wadah berisi cengkih di rumah seorang pedagang di Terqa, Efrat Tengah, yang hidup dalam kurun 1700 SM. Atau arkeolog Inggris, Julian Reade, menemukan sisa-sisa domba atau biri-biri di pulau Timor dari kurun masa hampir sama (1500 SM). Tak ada penjelasan lain yang paling mungkin, selain cengkih yang masa itu hanya tumbuh di kepulauan Maluku dan biri-biri yang hanya dikembang-biakkan di Timur Tengah, dibawa oleh para pelaut Indonesia.

Ptolemeus sendiri menyebut beberapa kali kata baroussai, yang diyakini adalah kota dagang kuno Barus di (pantai Barat) Sumatera Tengah, sebagai penghasil kayu barus (kapur barus, WDW), dan pengekspor bahan-bahan utama pembuatan balsam untuk pengawetan mayat Raja Ramses II pada 5000 SM. Ptolemeus juga yang menyebut sebuah kata yang juga dimuat dalam kitab tertua di Yunani, Periplous tes Erythrais Thalasses (Periplous of the Erythrean Sea) yang ditulis pada pertengahan abad 1 M: Chrisye. Kata yang tidak lain menunjuk pada kepulauan di Indonesia, Sumatera khususnya.

Periplous menyebut kata itu dalam penjabarannya tentang 4 jenis kapal yang ditemukan di India, yang dua diantaranya sangara dan kolandiaphonta dibuktikan keasliannya adalah kapal-kapal penjelajah samudera buatan orang Indonesia. Kata kolandiaphonta pun sebenarnya merupakan suatu transkripsi dari terminologi Cina, kun-lun-po, yang berarti “kapal dari selatan”, nama Cina untuk pulau Sumatera atau Jawa.

Bahkan Bible dalam 1 Raja-raja 9:27-28 mengisahkan tentang Hiram dari 1000 SM yang mengikuti Salomo dan mempersembahkan barang bawaan kapal-kapalnya berupa emas, perak, gading, kera, serta burung merak (1 Raja-raja 10:22). Kata-kata yang notabene, setelah ditelusuri asal-usulnya tidak berasal dari bahasa Timur Tengah, Bahasa India, Sanskerta atau Pali, tetapi dari bahasa Dravida di Tamil Selatan. Suatu daerah yang mengisahkan kejayaan hebat lain dari para pelaut Indonesia.

Agustus 22, 2014 at 3:11 pm Tinggalkan komentar

Indonesia Maritim: Berakhirnya Tipuan Ajisaka #1

oleh: Radar Panca Dahana
OLYMPUS DIGITAL CAMERATampaknya buku-buku sejarah Indonesia yang ada saat ini memang harus dihanguskan dan ditulis kembali dengan cara dan pendekatan yang sama sekali berbeda. Bukan juga hanya dengan sekadar menambahkan betapa di masa lalu, satu setengah milenium lalu, bangsa ini sudah memiliki armada maritim yang kuat di kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit. Apalagi bukan dengan sebuah awalan yang mistis, ketika Ajisaka yang menurut Mangkunegara IV mendarat di pulau Jawa pada 78 M untuk mengadabkan bangsa-bangsa di kepulauan ini.
Lebih jauh dari itu. Lebih jauh bahkan dari perkiraan saya sendiri, ketika membaca karya masterpiece sejarawan Perancis, Dennys Lombard, Le Cerrefour Javanais, sepuluh tahun lalu, dimana saya temukan data yang mengatakan adanya ekspedisi laut dari Jawa mendatangi Afrika dengan membawa hasil-hasil bumi berharga (emas, pala, pisang dll) untuk ditukarkan budak, pada 100 SM. Kisah yang ditulis oleh geograf Yunani asal Mesir, Ptolemeus (110 AD) itu, memberikan kita sebuah sugesti tentang sebuah kerajaan kuna di Jawa yang sudah cukup advance, bahkan tingkat perdagangannya, hingga ia membutuhkan budak, jauh abad sebelum Eropa, apalagi Amerika memerlukannya.
Data mutahir dari para ahli maritim, baik tentang Afrika, Eropa atau Asia Tenggara, menghasilkan temuan-temuan yang sangat mengejutkan. Temuan yang menunjukkan betapa bangsa Indonesia adalah bangsa maritim yang diakui, dijadikan acuan bahkan disegani bangsa-bangsa (berperadaban tunggi) lainnya di dunia, seperti Mesir, India, Cina hingga Eropa. Dan hal itu sudah dimulai dari suatu tarikh yang dalam imajinasi pun sulit kita menjangkaunya: 60,000 tahun yang lalu.
Di masa itu, sekumpulan manusia Australo-Melanesia yang berkebun dan berladang, keturunan langsung dari penghuni asal, Homo erectusyang diketemukan fosilnya di Solo, mendiami dataran Sunda, melakukan perjalanan sulit ke daerah kosong di dataran Sahul, memanfaatkan siklus alam yang membuat permukaan laut turun hingga 50m dari pantai. Dan ajaib, dengan teknologi perkapalan sederhana, mereka berhasil mengarungi 70 km laut hingga Australia dan Nugini, untuk menjadi nenek moyang dari bangsa Aborigin di sana.
Pada 35,000 tahun yang lalu, manusia yang sama, kembali melakukan perjalanan samudera ke kepulauan Admiralty di gugusan kepulauan Bismarck yang berjarak 200 km. Bandingkan dengan fakta bangsa Eropa menghuni pulau Siprus dan Kreta pertama kalinya, baru pada 8,000 tahun lalu dengan jarak yang tak lebih dari 80 km. Dan Penjelajahan bangsa purba Indonesia tidak berhenti, hingga 5,500 tahun yang lalu mereka menyeberangi Pasifik untuk mencapai dan berdiam di pulau Fiji, pulau Paskah (salah satu tempat terpencil di muka bumi), bahkan Hawaii dan dua pulau besar di Selandia Baru.
Penjelajahan terakhir di atas dilakukan oleh pendatang berbahasaMongoloid-Austronesia yang datang dari Formoza (Taiwan). Melewati selat Luzon mereka datang ke Nusantara membawa teknik pertanian “tebang dan bakar” serta perahu bercadik sebagai alat penyeimbang. Di kepulauan besar itulah mereka bertemu, bergaul, bercampur dan bersilang budaya serta keturunan dengan bangsa Australo-Melanesia asal paparan Sunda, untuk kemudian mengembangkan sistem genetika, bahasa dan sistem budaya yang rumit. Sistem yang merupakan pencampuran kulit putih/kuning dan kulit gelap yang bagi banyak ahli “hingga saat ini masih saja memperumit penentuan pola rasial di Indonesia” (hal ini akan dibicarakan kemudian).
Yang jelas, di saat yang bersamaan nenek moyang bangsa Indonesia ini tidak hanya melakukan pelayaran dan penjelajahan mengagumkan ke Timur, melintasi Pasifik, tetapi juga ke Barat menembus Samudera Hindia. Banyak catatan para ahli yang mengatakan bagaimana mereka akhirnya mendiami dan membangun kultur tersendiri di Madagaskar, membentuk bansa Afro-Indonesia, karena pergaulan ketatnya dengan bangsa-bangsa Afrika. Suatu catatan bahkan mengisahkan bagaimana orang Madagaskar yang bahasanya “asing” menyatroni shamba-shamba dan desa-desa di pantai Timur Afrika untuk menjarah dan memperoleh budak.

Dalam literatur arkeologi tersebut bangsa Zanj (asal kata yang melahirkan Azania, Zanzibar atau Tanzania) di Afrika Timur, yang tidak lain adalah keturunan Afro-Indonesia dan menetap untuk berkolaborasi dengan orang Zimbabwe, jauh abad sebelum Arab dan Swahili datang ke sana. Keberadaan orang Afro-Indonesia mengesankan, karena mereka terlibat dalam pertambangan emas, hasil bumi yang membuat Zimbabwe begitu terkenal hingga paruh pertama milenium baru, masa yang sama dengan kerajaan Sriwijayadi Swarnadwipa (Pulau Emas).

Agustus 22, 2014 at 3:02 pm Tinggalkan komentar

Pasaran Panunggalan #2

PENANGGALAN JAWA

 

Lengkapnya Sistem Penanggalan Jawa

Romo Zoetmulder (1983), di bab 1 buku tulisannya yang berjudul Kalangwan, menunjukkan rumit dan kumplitnya sistem penanggalan Jawa, sehingga ungkapan yang diceritakan oleh seorang pencerita, dapat diperhitungkan tepat kapan kejadiannya dengan penanggalan Masehi. Romo Zoetmulder menunjukkan hal itu dengan narasi pada prasasti Sukabumi yang berbahasa Jawa Kuna, bahwa penanggalan Jawa sangat astronomis, dan meskipun kelihatannya rumit, dalam praktiknya sudah seperti “Kamus Hidup”.

Narasi prasasti Sukabumi dibuka dengan uraian: “Pada tahun 726 penanggalan Saka, dalam bulan Caitra, pada hari kesebelas paro terang, pada hari Haryang (hari kedua Paringkelan), Wage (hari keempat Pasaran), Saniscara (hari ketujuh Padinan)…. dan seterusnya…” yang  setelah diteliti informasi bulan (paro terang) dengan rumusan pasaran, paringkelan, padinan dan seterusnya, saat itu adalah tepat pada tanggal 25 Maret tahun 804 M. Seperti itulah salah satu contoh cara orang Jawa membuat catatan sejarah dari suatu peristiwa besar, yang entah bagaimana maksudnya sampai sedetail itu. Kebanyakan dari kita sekarang sudah tidak tahu lagi apa maksudnya Paringkelan itu, misalnya. Yang masih tersisa tinggal Pasaran dan Padinan. Itu pun sekarang tanpa pengetahuan praktis penggunaannya.

Padahal selain penanggalan, Jawa mengenal beberapa sistem hitungan hari, masih ada lagi kekayaan warisan nenek moyang terkait penanggalan ini, yaitu wuku, mangsa (musim), tahun, dan windu. Penanggalan Jawa memiliki hitungan sebagai berikut: 5 macam hitungan hari, 30 nama minggu dalam pengertian jangka waktu atau week (wuku), 12 nama bulan surya dan 12 perlambang musim (untuk bertani dan pelayaran), 8 nama tahun (oleh Sultan Agung nama-namanya diganti dengan huruf-2 Arab, nama asli dulunya belum terlacak lagi…), 4 nama windu, tetapi tanpa kenal angka tahun, karena memang tidak memiliki seorang tokoh penting dalam urusan kehidupannya.

Ya, mengapa harus menggunakan seseorang tokoh untuk menghitung tahun, jika sistem kalender itu adalah karya anonim? Apalagi jika suatu rumus kombinasi nama-nama hari, minggu, bulan, tahun dan windu tertentu mampu menentukan berapa umur sesuatu kondisi? Sebut saja misalnya hari ini (saat posting ini saya update), Sabtu 3 Januari 2015 (12 Rabiul Awal, 1436 H atau 12 Mulud 1948 J) yang merupakan paduan dari “Saniscara (Sabtu), Pahing, Tungle, Sri, Kerangan” jatuh pada wuku Langkir, bagian dari musim Palguna, dan bulan “Mulud” dari tahun “Ehe”  dalam Windu Sengara, maka formula hari semacam itu akan berulang pada hari yang ke: 7 x 5 x 6 x 8 x 9 (kombinasi nama-nama hari dari 5 macam siklus hari) x 30 (nama wuku) x 12 (musim) x 12 (bulan) x 8 (tahun dalam 1 windu) x 4 (jumlah nama windu) =   2,090,188,800 hari kemudian. Jadi kira-kira 5,726,545 tahun yang akan datang dengan hitungan tahun matahari, kombinasi penanggalan kumplitnya baru berulang.

Tinggal dua Tatanama Hari

Jika kita membaca tanggalan jaman sekarang, kadang-kadang kita temukan dua sistem penamaan hari, yaitu yang dengan hitungan lima harian dan tujuh harian. Bahkan yang paling banyak sekarang hanya memuat satu sistem penamaan hari yaitu tujuh harian seminggu: Ahad (Minggu), Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Sistem hitungan lima harian dikenal dengan nama Pasaran, yaitu: Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon. Namun demikian “pasaran” hanya tinggal nama, tanpa ada pemaknaan kegunaannya.

Hal ini terjadi, kemungkinan besar karena berubahnya sistem kalender yang digunakan di Indonesia, yang masih lumayan, tidak hanya berdasarkan kalender Masehi yang solar (berdasar matahari, sebenarnya rotasi dan revolusi bumi terhadap matahari), tetapi juga kalender Jawa yang lunar (berdasar peredaran bulan mengelilingi bumi). Padahal, peradaban Jawa memiliki sistem kalender yang sangat lengkap. Untuk hitungan hari ada lima sistem penghitungan, seperti yang disajikan pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Nama-nama Hari dalam Penghitungan Hari Penanggalan Jawa.

5 Harian (Pasaran)

6 Harian (Paringkelan)

7 Harian (Padinan)

8 Harian (Padewan)

9 Harian (Padangon)

  Legi  Tungle (daun)  Radhite  Sri  Dangu (batu)
  Pahing  Aryang (manusia)  Soma  Indra

 Jagur
(macan)

  Pon  Wurukung  (ternak)  Anggara  Guru  Gigis
(bumi)
  Wage  Paningron
(ikan)
 Budha  Yama  Kerangan (matahari)
  Kliwon  Uwas
(burung)
 Respati  Rudra  Nohan
(bulan)
 Mawulu
(benih)
 Sukra  Brama  Wogan
(ulat)
 Sanisçara  Kala  Tulus
(air)
 Uma  Wurung
(api)
 Dadi
(kayu)

Konferensi kebudayaan Jawa (waktu itu) berlangsung tanggal 20 hingga 25 Oktober 2008, yang jika dihitung dengan sistem perhitungan hari lengkap memiliki ordinat hari sebagai berikut:

Tabel 2. Hitungan Hari Penyelenggaraan KIKJ 2008

Tanggal

Pasaran

Paringkelan

Padinan

Padewan

Padangon

 20 Oktober  Legi  Wurukung  Soma  Sri  Wogan
 21 Oktober  Pahing  Paningron  Anggara  Indra  Tulus
 22 Oktober  Pon  Uwas  Budha  Guru  Wurung
 23 Oktober  Wage  Mawulu  Respati  Yama  Dadi
 24 Oktober  Kliwon  Tungle  Sukra  Rudra  Dangu
 25 Oktober  Legi  Aryang  Sanisçara  Brama  Jagur

Pada makalah ini, penulis tidak ingin membahas satu persatu dari sistem hitungan hari di atas, namun ingin menyatakan bahwa dalam nama-nama “hari” diatas telah diberi makna simbolik oleh nenek moyang Jawa. Selain itu, dua macam hitungan hari yaitu Pasaran dan Paringkelan, rupa-rupanya pernah digunakan sebagai pedoman berkehidupan di masyarakat. Tidak sekedar menentukan hari libur dan hari kerja, kapan beribadah, kapan hari bebas, melainkan lebih menyangkut pada kegiatan perekonomian masyarakat. Berhubung pokok bahasan tulisan ini adalah tentang Pasaran, maka mari kita coba kaji simbol-simbol yang telah diberikan oleh nenek moyang Jawa kepada setiap “hari pasaran” yang gunanya untuk memberi gambaran sikap dan sifat seseorang dengan kelahiran “hari pasaran”, sebagai berikut.

Tabel 3. Simbol atau Pasemon “Hari” Pasaran

Hari

Pasemon

Watak Hewan

Legi Sumendhi ngibarate Ratu Bupati (mengayomi, sanggup, lapang dada, ikhlas) Kucing (jinak, awas, curigaan) dan Tikus (awas tapi bingungan, betah melek)
Pahing Cendhana (sangat etungan untung-rugi) Macan (jauh jangkauannya, individualis)
Pon Samahita lakuning utusan (jinak budinya, petuahnya banyak diturut, serius) Domba/Kambing (tidak jauh bermainnya, hanya menikmati miliknya sendiri)
Wage Prabuanom lakuning dhandhang (cakap tetapi angkuh) Sapi (jinak, semaunya yang memerintahkan jadi, harus dipelihara, ngeyel)
Kliwon Wisa marta durjana tengah (ada baiknya tapi juga ada jeleknya, pandai bicara) Monyet dan Anjing (sulit dijinakkan, tetapi kalau jinak sangat setia)

Selain Pasaran, hitungan hari Paringkelan, kelihatannya pernah dijadikan pedoman dalam mencari nafkah. Perkiraan penulis, penerapan Paringkelan itu kemungkinan memandu pemusatan perhatian (fokus) pada aspek-aspek pencarian nafkah, yang berbermakmakna penghindaran karena RINGKEL berarti SIAL, sebagai berikut:

  1. Tunglé (daun) memandu masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas  yang terkait dengan tanaman
  2. Aryang (manusia) untuk tidak menjadikannya sebagai hari berkegiatan sosial bermasyarakat
  3. Wurukung (hewan ternak/rajakaya) hari sial untuk hewan (disembelih dan dijual) maka baik untuk fokus  dalam pemasaran ternak rajakaya (kerbau, sapi, kuda, kambing, domba)
  4. Paningron (ikan air tawar) bukan hari baik untuk melaut, misalnya
  5. Uwas (unggas) bukan hari baik untuk usaha peternakan unggas
  6. Mawulu (benih) bukan hari baik untuk melakukan  penanaman

Maksud dari fokus tersebut, bukan berarti pada “hari paringkelan” tertentu semua orang bekerja pada pekerjaan yang sama, melainkan pada hari-hari itulah saat yang tepat melakukan usaha-usaha terkait dengan lambang paringkelan sesuai dengan “profesi” masing-masing. Misalnya seorang petani penanam padi, maka penyebaran benih dilakukan pada hari Mawulu, kemudian setiap 6 hari ke sawah memelihara tanaman pada hari Tunglé.

Hitungan 6 harian ini ternyata juga berlaku di Jepang, dengan sistem hitungan “Rokuyou”-nya. Roku adalah enam (6), you adalah sebutan hari. Keenam nama hari dalam rokuyou adalah sebagai berikut:

  • 1. Senshou (hari selamat dan banyak harapan untuk memulai bisnis baru)
  • 2. Tomibiki (hari tidak baik untuk bisnis dan pemakaman)
  • 3. Senbu (kebalikan dari Senshou)
  • 4. Butsumetsu (hari yang dipercaya sebagai hari wafat Buddha)
  • 5. Taian (hari paling baik untuk segala urusan; setiap peristiwa penting seperti pelantikan kabinet, peresmian pabrik dan lain-lain di Jepang biasanya ditepatkan pada hari Taian ini.)

Ketika penulis tinggal di Ishigakijima, Okinawa, hitungan Rokuyou ini dipergunakan sebagai hari pasaran. Pada hari Taian maka para peternak sapi mendatangi pasar hewan untuk bertransaksi segala macam urusan peternakan sapi. Sekarang bagaimana di Jawa?

Seperti judul sub-bab di atas, pertanyaannya adalah mengapa tinggal dua sistem hitungan hari yang tersisa di Penanggalan Jawa? Apakah tidak mungkin (meskipun tinggal dua macam) kita hidupkan lagi penerapannya di masyarakat? Mari kita telisik bersama.

November 6, 2013 at 10:26 am Tinggalkan komentar

Eskapisme dan Cara Aman Penyajiannya

Cak Gigih Nusantara commented on your note “SUMUR SINABA: Visi Lembaga Pendidikan…

Petilasan Jayabaya

Petilasan Jayabaya

Banyak cara un tuk mengusahakan terjadinya penglepasan energi yang menghimpit, yang harus dilepas pada saatnya, sebab jika tidak, maka akan terjadi ledakan yang justru tak terkendali dan merusak. Katup-katup pengaman itu, antara lain, dengan mencoba membaca primbon (jangka) yang ditulis para pujangga, dengan anggapan bahwa para sufi ini sudah membuat jarak terhadap keduniawian, sehingga apa pun pendapat yang mereka sampaikan dapat dianggap berasal dari sebuah mata air yang suci, jauh dari pencemaran kepentingan manusiawi.

Salah satunya yang saya terima kemarin dari KDP, mengenai kutipan Sudjiwo Tedjo terhadap karya Yosodipuro, mengenai siklus kejayaan Nusantara yang berlangsung 700-tahunan, yang jika diambil sejak rutuhnya Majapahit 500 tahun lalu, maka masih harus menempuh perjalanan 200 tahun lagi. KDP menambaahkan, mungkin generasi ke-4 atau ke-5 dari kita-kita saat ini.

(lebih…)

Oktober 16, 2009 at 2:06 pm Tinggalkan komentar

Sumur Sinaba

Semakin menyelami sisa-sisa budaya Jawa, semakin seram jadinya. Terus terang saya tergerak mendalami lagi buku-buku yang pernah ditulis ketua Yayasan Sekar Jagad.

Ya, ini masalah apresiasi kita bersama terhadap budaya kita sendiri. Bahwa ada sebagian dari kita yang ternyata lebih mengagungkan budaya lain, mencampuradukkan budaya dan keyakinan. Ini adalah salah satu contoh dari lingkup budaya tempat saya hidup, Budaya Jawa.

(lebih…)

Oktober 15, 2009 at 5:43 am 6 komentar

Prof. Dr. Ir. Sarjana Utama, MSi.

DOKTOR (Dr.) Kuswata (bukan nama sebenarnya) adalah dosen utun PTN. Dia berprinsip pekerjaan dosen itu menyampaikan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa dan melaksanakan penelitian dalam rangka ikut berusaha mewujudkan visi perguruan tinggi tempatnya bekerja. Dapat dianggap Kuswata mengikuti mazab Andi Hakim Nasution, bahwa TUJUAN Perguruan Tinggi adalah untuk menemukan kebenaran baru atau menemukan cara baru agar kebenaran itu dapat lebih bermanfaat.

Pendeknya tujuan umum PT adalah mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS) dalam rangka memajukan kecerdasan kehidupan bangsa. Apalagi seorang Doktor yang menurut pengertiannya adalah: Doctor of Philosophy is the highest degree awarded by a graduate school, usually to a person who has completed at least three years of graduate study and a dissertation approved by a board of professors.

(lebih…)

Oktober 28, 2008 at 1:47 pm 2 komentar

Bahasa yang Dilecehkan Bangsa

Bahasa yang Dilecehkan Bangsa

Pusat Bahasa Depdiknas merencanakan gelar akbar Kongres Bahasa Indonesia VIII di Jakarta pada 14-17 Oktober 2003 mendatang. Oktober adalah bulan bahasa, berpijak pada peristiwa diikrarkannya tiga prasetya Sumpah Pemuda dalam peristiwa Kongres Pemuda 28 Oktober 1928.

Ini menarik, karena dalam peristiwa Sumpah Pemuda itu para embrio bangsa, para pemuda, yang 17 tahun kemudian menjadi tokoh sentral proklamasi dan perjuangan kemerdekaan NKRI mengikrarkan prasetya terhadap bangsa yang satu dan tanah air yang satu, Indonesia, serta menjunjung satu bahasa kebangsaan, Bahasa Indonesia. Padahal, bangsa dan tanah air Indonesia saat itu jelas belum lahir, belum ada. Tetapi dengan menjunjung satu bahasa kebangsaan, para pemuda yang semula masih bersemangat kedaerahan cukup kental, melebur menuju satu bangsa yang bertanah air di persada bumi Indonesia. Bahasa Indonesia, berarti sejak sebelum negara dan bangsanya lahir, telah menjadi alat pemersatu bangsa. Sehingga wajar dari ketiga Sumpah Pemuda itu hanya Bahasa yang diangkat untuk diperingati pada bulan Oktober. Mengapa tidak ada Bulan Bangsa dan Bulan Tanah Air? Atau, mengapa tidak sekaligus saja Oktober adalah Bulan Bangsa, Tanah Air, dan Bahasa?

***

(lebih…)

Oktober 27, 2008 at 3:23 pm 2 komentar

Pos-pos Lebih Lama


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru