KAMINOLOGI (terjemahan dari e-mail ke wajaseta2001)

Februari 21, 2008 at 5:53 pm 2 komentar


2618938-amaterasu_5Akhir Januari 2004, kabarnya Yahoo! sedang berperang dengan virus. Kebetulan pula posting dari milist-milist berbahasa Jawa sepi. Sepinya mungkin karena para pelanggan “mblenger” dengan posting tentang “Gusti Allah“. Berhubung sepi, saya berkeliaran ke beberapa situs penyedia file-file sejarah gratisan. Eee, tahu-tahu nyasar ke situs yang memajang “Ancient Japan

Tetapi lumayan, karena ada file yang membahas tentang KAMI pada folder glossary of ancient Japan. Bersamaan waktu dengan datangnya e-mail dari New York anggota milist jawa@yahoogroups.com, dari Pakdhé Harjono. Pada e-mail itu ditulis bahwa pengertian Gusti Allah itu memiliki sangat banyak sebutan tergantung dari yang mempercayainya, tergantung dari budaya setempat, kalau menurut pendapat saya. Salah satu budaya dunia dengan konsep ketuhanan tertentu adalah Jepang. Gusti Allah, demikian orang Jawa menyebut, Allah atau Alloh, demikian orang Kristen atau Islam menyebut, Yahwe atau Elly dalam bahasa Hibrani, dalam bahasa Jepang disebut KAMI.

Menurut sejarahnya, orang Jepang sekarang ini bukanlah bangsa asli kepulauan Jepang, melainkan pendatang dari semenanjung Korea. Bangsa Korea menyeberang ke laut karena terdesak oleh bangsa lain dari Utara. Bangsa Utara mengalir ke selatan karena wilayahnya yang semula subur sebagai padang penggembalaan sedikit-demi sedikit menjadi gurun pasir akibat bersatunya benua India ke benua Eurasia sehingga menghasilkan pegunungan Himalaya yang menghalangi pengaruh laut ke daratan Cina Utara. Itu akibat terjadinya dan pecahnya kembali super benua ketiga di bumi yang disebut Pangaea. Pengaruh pengeringan dan gurunisasi itu berlangsung terus hingga 30.000 tahun sebelum Masehi, membuat bangsa utara mengalir ke selatan.

Sebagai orang asli Korea, bangsa Jepang mendarat di kepulauan itu dengan mambawa cikal-bakal kepercayaan atau agamanya. Orang Korea dikenal memiliki banyak dewa, bahkan macam-macam dewa itu sangat tergantung klan atau suku. Kekuatan di luar manusia yang dianggap paling mempengaruhi eksistensi klan atau ketua klan, diangkat menjadi dewa yang disucikan. Sebutannya untuk bahasa orang Jepang adalah KAMI itu. Klan-klan dalam bahasa Jepang disebut Uji. Ada banyak Uji yang sampai kini terwariskan menjadi nama-nama keluarga, sepeerti Tanimoto, Yamamoto, Fukuoka, Fujiwara, Tokugawa dan lain sebagainya. Setiap uji punya kami sendiri, jadi jumlah dan macam kami sangat banyak. Yang dianggap sebagai kami bisa arwah leluhur, hutan, air, sungai, laut, bulan, matahari, bintang dan lain sebagainya sesuai dengan anggapan ketua uji tentang sesuatu yang mempengaruhi eksistensi uji-nya.

Antar uji sering terjadi konflik dan bentrokan. Uji yang menang dan menaklukkan suatu uji, maka KAMI uji yang kalah tidak dibuang, tetapi dijadikan taklukan KAMI pemenang. Akhirnya Kami-kami itu bertingkat-tingkat. Klan yang paling banyak punya taklukan, Kami-nya paling tinggi kedudukannya. Kami juga semakin banyak. Hingga pada akhirnya JIMMU bertahta sebagai Kaisar, terus mengangkat dirinya sebagai keturunan dewi matahari AMATERASU. Amaterasu dianggap diciptakan oleh KAMI yang paling berkuasa dengan misi membawa kehidupan dan kesejahteraan di kepulauan Jepang. Untuk memenuhi misi itu Amaterasu menurunkan seorang Kaisar lewat banyak tingkatan dari keturunan-keturunan langitnya, sampai terlahir seorang Kaisar yang disebut TENNOU (orang dari langit). Selanjutnya ditambah lagi menjadi Tennou Heika, manusia langit raja perdamaian, pembawa misi Amaterasu sebagai visi KAMI SAMA, kami yang menguasai JAGAD.

Yang jelas dalam sejarah geografi-kuno (Archaeogeography), sejak menjelang terbentuknya super benua ketiga di bumi – Pangaea – wilayah Asia Timur dan Asia Tenggara tidak pernah jauh-jauh dari khatulistiwa, termasuk Nusantara, Mindanao, Taiwan, hingga Jepang. Selalu dekat-dekat dengan daratan Cina Selatan. Tetapi Nusantaranya masih minus Maluku dan Papua yang masih setia bersatu dengan Pangaea bagian Australia dan Antartika.

Menurut catatan sejarah Jepang, sejak 30.000 tahun yang lalu, berarti akhir masa pembentukan Gurun Ghobi, kepulauan Jepang sudah berpenghuni bernama manusia Jomon. Orang Jomon membuat tembikar/gerabah yang oleh sementara ahli banyak dibuat di kantung-kantung kebudayaan setelah budaya PERTANIAN. Dalam hal bangsa Jomon ini malah terbalik, ada budaya pra-pertanian sudah pinter membuat gerabah.

Dari itu saya melihat-lihat file gratisan yang membahas sejarah manusia. Tiba-tiba aku temukan catatan bahwa fosil tengkorak kurang lengkap yang diketemukan di Wajak (umur sedimen pembawanya masih tergolong baru, 50.000 tahun yang lalu, tetapi umur sebenarnya dari fosil masih teka-teki karena kalau memakai umur sedimen, akan bermasalah dengan kesepakatan evolusi manusia) adalah termasuk species manusia modern “Homo sapien” atau manusia bijaksana, spesies kita sekarang ini. Buktinya pada fosil Homo wajakinsis itu sudah tidak didapati ciri-ciri manusia primitif. Bahkan ciri Homo erectus seperti pada fosil Sangiran dan Trinil pun tidak ada.

Timbul pertanyaan besar bagi saya, apakah mungkin pada jaman 30.000 tahun yang lalu itu kepulauan Nusantara dan Asia Timur yang tidak pernah jauh dari Khatulistiwa itu sudah berpenghuni??? Setidaknya ini bisa dibuktikan dari bahasa Jepang sekarang. Bahasa Jepang tergolong unik, karena lafalnya sangat mirip dengan bahasa Austronesia, termasuk Jawa, tetapi tatabahasanya masih sama dengan Korea yang kemiripannya sampai ke bahasa Norwegia ketika bangsa-bangsa itu menyebar kemana-mana akibat penggurunan daratan Ghobi.

Ah jangan-jangan manusia Nusantara, terutama Jawa yang silaby kata-kata aslinya selalu ganda dengan konsonan dan vokal (tidak ada vokal-konsonan atau dobel konsonan atau dobel vokal) sudah eksis bersamaan dengan orang-orang Jomon yang baru abad 4 SM mulai terdesak oleh emigran dari Korea itu. Sebab kelihatan bahwa bahasa Jepang sekarang ini campuran antara Korea dan Jomon.

Ah, sayang belum banyak sejarawan Indonesia yang menyisir wilayah ini. Wilayah kebudayaan kuno sejak jaman Homo erectus, 50.000 tahun yang lalu. Siapa tahu, Homo sapien itu justru lahir di Nusantara, meskipun begitu tidak merusak teori Out of Africa. [2 Februari 2004]

Entry filed under: Budaya, lain-lain, pendidikan, spiritual. Tags: , , , , , , , .

Salaaam… Gegar Budaya Petani Jawa #1 (Ki Sondong Mandali)

2 Komentar Add your own

  • 1. wibowo  |  Februari 28, 2008 pukul 2:50 am

    Di National Geographic ada cerita tentang meletusnya supervulcano 75.000 tahun yang lalu dan jadi danau Toba, pengaruhnya ke klimat bumi sangat kuat sehingga hampir memicu jaman es lagi.

    Jika daerah sekitar Toba (Nusantara dan Asia Tenggara) masih ada cukup populasi manusia yang selamat maka peradaban yang telah ada pun besar kemungkinan masih selamat.

    Jika tidak… ya putuslah peradaban yang ada di Nusantara 75.000 tahun lalu.

    30.000 tahun yang lalu baru mulai perdaban setelah supervulcano itu seperti yang Mas Ki ceritakan.

    Ada cerita bahwa kehidupan berasal dari tanah Jawa, bagaimana pendapat Mas ?

    Balas
  • 2. TRIO  |  Agustus 4, 2012 pukul 12:29 pm

    jawa pernah di jajah jepang

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: