Gegar Budaya Petani Jawa #3 (Ki Sondong Mandali)

Februari 27, 2008 at 2:22 pm Tinggalkan komentar


KASH (Knowledge, Attitude, Skill, Habit) Jawa

Perjalanan sejarah panjang (mungkin ribuan tahun) budidaya tanaman padi dan kebaharian di Jawa melahirkan budaya dan peradaban Jawa. Artinya bahwa perjalanan panjang sejarah pertanian sawah/kebaharian di Jawa, melahirkan KASH (Knowledge, Attitude, Skill, Habit) manusia Jawa sesuai dan sejalan dengan peri kehidupan di bidang pertanian sawah dan kebaharian tersebut.

Pertanian sawah maupun kebaharian merupakan pekerjaan bersama banyak orang, bukan jenis pekerjaan individual.  Maka terlahir pranata ‘sosial-ekonomi-budaya’ Jawa yang mengedepankan nilai-nilai untuk kepentingan hidup bersama.  Baik kebersamaan dalam satu komunitas kabuyutan (pedalaman) dan kebandaran (pesisir), maupun kebersamaan antar kabuyutan/kebandaran  pada wilayah satu negara (kerajaan). 

Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, maka bisa diketahui bahwa sistim pemerintahan kerajaan di Jawa masa lalu menerapkan ideologi yang berpihak kepada petani.  Dibuktikan dengan adanya prasasti yang berisi ‘Penetapan sebagai daerah perdikan (otonom) untuk suatu kabuyutan yang masyarakatnya secara bergotongroyong telah berhasil membangun bendungan dan saluran irigasi’.  Malahan, bahwa adanya prasasti yang demikian mengindikasikan bahwa ‘sistim irigasi pertanian’ adalah inisiatif rakyat, bukan atas perintah kerajaan yang berkuasa.  Dengan demikian, sekiranya benar bahwa kerajaan-kerajaan di Jawa didirikan oleh wangsa-wangsa pendatang dari Asia Daratan, maka kerajaan-kerajaan tersebut bukan mengajarkan budaya dan peradaban pertanian dan kebaharian.  Kerajaan-kerajaan tersebut sekedar berperan sebagai fasilitator hubungan ekonomi (perdagangan) antar desa (kabuyutan),  antara kabuyutan di pedalaman dengan bandar-bandar komunitas bahari di pesisir, dan antar negara (termasuk dengan Asia Daratan). 

Menilik bangsa Nusantara adalah bangsa bahari, maka perdagangan antar pulau dan antar negara pelakunya bangsa Nusantara (termasuk Jawa) sendiri.  Karena bangsa Nusantara yang memiliki KASH kebaharian.  Bangsa-bangsa di Asia daratan bukan bangsa bahari, maka tidak memiliki KASH kebaharian. 

Berkat KASH kebaharian yang dimiliki, maka bandar-bandar (pelabuhan perdagangan) di Jawa berkembang maju dan merupakan pusat perdagangan hasil bumi dan rempah-rempah di Asia Tenggara.  Yang menarik, bandar-bandar perdagangan bahari di Jawa selalu dipimpin penguasa perempuan. (Putri Shima sampai dengan  para Nyai Ageng di jaman Majapahit). 

Kontak hubungan ekonomi antara kebandaran dengan wilayah pertanian di pedalaman (kabuyutan) terjalin dengan baik atas peran kerajaan-kerajaan yang menjadi fasilitator hubungan perdagangan tersebut.  Disamping itu, masyarakat Jawa sendiri telah membangun sistim jaringan pasar hasil bumi dan hewan ternak menggunakan ‘hari pasaran’ (Kliwon, Legi, Paing, Pon, Wage).  Barangkali hanya bangsa Jawa yang mempunyai perputaran ‘hari pasaran’ untuk mengatur kegiatan ekonomi perdagangan seperti itu.  Menariknya, bahwa penggiliran ‘hari pasaran’ tersebut tersistim dari suatu wilayah kecil (kabuyutan) yang kait-mengkait sedemikian rupa sambung-menyambung sampai mencakup seluruh wilayah sebuah kerajaan.  Jejak sistim ini masih bisa diketemukan sampai saat ini.  Orang Jawa di pedesaan begitu hapal hari keramaian pasar di sekitarnya.  Maka artinya, bahwa peradaban Jawa sejak jaman kuno sudah memiliki sistim perekonomian/perdagangan rakyat semesta.

 

KASH pertanian/kebaharian Jawa juga menghasilkan perhitungan kalender ‘pranata mangsa’.  Suatu perhitungan kalender yang benar-benar ’nyambung’ untuk kegiatan bertani dan pelayaran.  Berdasar pranata mangsa bisa dipelajari pola budidaya pertanian di Jawa.  Setidaknya, bisa tergambarkan pola kegiatan bertani orang Jawa yang didasarkan kepada dinamika perubahan iklim sepanjang tahun (sesuai dengan perhitungan pranata mangsa).   KASH pertanian dan kebaharian Jawa juga menghasilkan kearifan pembagian peran kaum laki-laki dan perempuan yang berbeda namun terangkum dalam satu kegiatan bertani dan pekerjaan bahari.  Pada bidang pertanian, ada pembagian pekerjaan yang saling mengisi antara laki-laki dengan perempuan.  Diantaranya bisa disebutkan: tugas laki-laki menyiapkan lahan sawah dan menyemai benih, perempuan yang menanam (tandur).  Laki-laki melakukan pendangiran (nglandak), perempuan menyiangi rumput (matun).  Laki-laki mengurus pengairan, perempuan menjaga tanaman dari hama burung dan melakukan ‘ritual pertanian’ yang diperlukan.  Ketika panen, perempuan yang memetik (ani-ani), mengolah padi pasca panen (menjemur, melumbungkan, menumbuk sampai menjual ke pasar).  Laki-laki membabat jerami kemudian mengolah lahan sawah untuk penanaman palawija. [Catatan: Pada masa lalu petani Jawa menanam padi hanya semusim (satu kali panen, 5-6 bulan) yang kemudian diganti dengan palawija. Pergantian tanaman dalam setahun dimaksud sebagai konservasi lahan sawah, memutus rantai kehidupan hama, dan untuk melakukan pemupukan sawah dengan pupuk kandang].  Pembagian peran di bidang pekerjaan kebaharian  (nelayan), laki-laki menangkap ikan di lautan setelah sampai di darat hasil penangkapan ikan dilakukan kaum perempuan. Sementara di bidang ‘perdagangan laut’, laki-laki adalah pekerja kapal sementara perdagangan di pasar-pasar dilakukan npara perempuan.KASH orang Jawa pada kenyataannya memiliki keunggulan dalam mengobservasi dan mengeksplorasi alam berikut plasma nutfah yang ada.  Maka kemudian menghasilkan pengenalan dan penamaan terhadap plasma nutfah (flora dan fauna) yang lebih lengkap dan detail.  Contoh pengenalan dan penamaan tersebut, diantaranya:

  1. Nama Ayam: Gondhang, Wido, Wiring Kuning, Lurik, Blorok, Klawu, Tulak, Walik Tukung, dlsb. 
  2. Nama Itik: Bambangan, Kalung, Pelik, Bosokan, Blandhong, Jarakan, dlsb.
  3. Nama Merpati: Megan, Gambir, Tlampik, Brongsong, Totog, Tropong, dlsb.
  4. Nama Semut: Ngangrang, Pudhak, Ireng, Geni, Kripik, dlsb.
  5. Nama Rumput: Teki, Grinting, Gajah, Kalanjana, Jawan, dlsb.
  6. Nama Padi (galur murni lokal): Pari Slamet, Pari Wulu, Rajalele, Pari Lanang, Pari Gendruwo, Pari Jakatawa, dlsb.
  7. Empon-empon: Jahe, Lempuyang, Laos, Brotowali, Kencur, Kunci, dlsb.
  8. Rempah-rempah/Bumbu : Mrica, Tumbar, Bawang, Brambang, Kemiri, Asem, Kluwak (Pocung), Jinten, Godhong Salam, Kara Keling, dlsb.

KASH Jawa sangat sadar akan kesemestaan yang melahirkan kesadaran terhadap lingkungan hidup (ekosystem).  Diantaranya berupa:

  1. Pensakralan terhadap sumber mata air dengan diberi patung lingga-yoni atau Bethara/Bethari.
  2. Membangun mitologi yang berkaitan dengan pemeliharaan ekosystem sedemikian rupa sehingga melahirkan ‘larangan’ untuk membabat pohon tertentu dan membunuh binatang tertentu.
  3. Menanam dan memelihara jenis pohon yang disakralkan. Contohnya penanaman pohon beringin di sumber mata air, perempatan/pertigaan jalan desa, alun-alun kota, dan istana raja.  Ternyata pohon beringin merupakan pusat ekosystem yang mampu mengambil unsur hara dari dalam tanah untuk disediakan kepada unggas dan serangga.  Juga berkat karakter beringin yang mengambil unsur hara tanah menjadikan air yang keluar ke permukaan bumi terbebas dari toksin unsur hara sehingga bisa dikonsumsi  manusia dan jenis hewan yang hidup di daratan.
  4. Penanaman ‘bambu ori’ di sepanjang aliran sungai.
  5. Pada setiap hamparan sawah yang luas selalu ada bagian yang dibuat tegalan (gumuk) dan ditanami pohon ‘anti badai’ semacam munggur, klampis, trembesi, sengon, tekik, dlsb.  
  6. Pada wilayah yang banyak petir dinetralkan dengan pohon Aren (Kolang-Kaling).

Paparan tersebut di atas adalah wacana untuk membuktikan bahwa budaya dan peradaban Jawa (Nusantara) adalah asli dilahirkan oleh ‘Build-in Spiritual’ (Cipta Rasa Karsa) orang Jawa sendiri.  Bukan hasil mengadopsi dari India dan Hindia Belakang..  Apalagi sebagai hasil pembelajaran para ‘Syech’ negeri Rum sebagaimana disebut dalam kitab-kitab Jangka.

Ki Sondong Mandali Tilp. : (024) 7477292; HP: 08157611019; 08882572343

(Untuk mangayubagya kelulusan putri bungsu penulis dari Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, IPB)

Entry filed under: Budaya. Tags: .

Gegar Budaya Petani Jawa #2 (Ki Sondong Mandali) Gegar Budaya Petani Jawa #4 (Ki Sondong Mandali)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: