Pidato Dies ITB 2 Maret 2005

Maret 3, 2008 at 12:17 pm Tinggalkan komentar


HS DillonMENGHIDUPI ROH ITB

Yang saya muliakan para Gurubesar,
Yang terhormat Anggota MWA,
Yang Terhormat Anggota Senat Akademik,
Yang sangat saya cintai para Dosen dan Karyawan ITB,
Yang saya banggakan Para Mahasiswa,
Para undangan, hadirin yang berbahagia,

Selamat pagi.

Pertama-tama, saya menyampaikan terima kasih kepada Rektor dan Senat Akademik yang telah memberi kesempatan kepada saya sebagai Ketua MWA untuk pertama kalinya dapat berdiri tegak disini. Tiada yang lebih patut kita lakukan selain bersyukur kehadirat Illahi Rabbi atas anugerah usia 54 tahun kepada ITB. Apabila pada pelantikan Rektor penghujung Januari yang lalu kita telah ‘Membangunkan Roh ITB’, maka kini kita perlu berupaya bersama untuk ‘Menghidupi Roh ITB’.

Apa sebenarnya yang kita maksudkan dengan ‘Roh ITB’ itu? Itulah élan yang bersemai dalam sanubari setiap anggota civitas academica ITB, yang memilih bergabung bersama untuk mengaktualisasi pengabdiannya mengamalkan ilmu dan teknologi demi kemaslahatan rakyat dan bangsa. Itulah yang perlu kita bangunkan kembali dari waktu kewaktu atau dalam bahasa sehari-hari,  perlu kita perbarui tekad, komitmen kita.

Bagaimana upaya kita agar komitmen ini tidak perlu diperbarui secara berkala? Agar Roh ITB memiliki kemampuan intrinsik untuk memperbarui dirinya sendiri guna senantiasa menjadi garda terdepan dalam mengatasi tantangan bangsa? Itu hanya mungkin dilakukan apabila segenap civitas academica ITB membangun suatu komunitas ilmiah tempat bersama-sama mengemban mandat moral sebagai warga balai persemaian benih-benih kepemimpinan, kepeloporan perjuangan, keteladan dan kesempurnaan bangsa.

Para hadirin yang saya hormati,

Dengan penuh kehambaan saya mengajak kita semua untuk memasuki relung hati yang paling dalam guna menjawab pertanyaan : “Sudahkah saya berikan yang terbaik bagi ITB selama ini?”. Jawabannya tidak perlu diumumkan, tetapi dapat dijadikan awal melaksanakan tekad untuk bersama-sama menghidupi Roh ITB agar senantiasa lestari.

 Untuk memudahkan terlaksananya tekad bersama ini, marilah kita mendalami hakekat teknologi . Sebenarnya teknologi seperti halnya bahasa, upacara, tata nilai, perdagangan dan seni adalah bagian intrinsik lingkar/lingkung budaya dan sekaligus merupakan pencerminan nilai suatu sistem. Dalam pengertian luas teknologi merentang semua kemampuan mengubah ‘dunia’; memotong, membentuk atau mencampur material, memindahkan serba jasad dari satu tempat ke tempat lain baik dengan otot, akal, suara, ataupun sarana lain buatan manusia. Pengadaan pangan, papan dan perlindungan sekalipun merupakan pancar murni aspirasi kemanusiaan yang mempunyai pengetahuan, seni maupun kendali. Dengan pengertian yang lebih konkrit, teknologi mencakup seni, ilmu, dan kerekayasaan serta aplikasinya dalam masyarakat.

Jelaslah bahwa teknologi merupakan tolak ukur majunya peradaban. ITB mengkhususkan diri untuk mengembangkan kemampuan penelitian, pengajaran dan pengabdian teknologi. Sejauh manakah kita sudah berhasil mengemban tugas utama kita? Statistik menunjukkan bahwa masih banyak lulusan ITB yang kembali ke masyarakat tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang ia tekuni di bangku kuliah. Ini mengungkapkan bahwa kita belum berhasil mewujudkan pemerataan sumber daya manusia sebagaimana yang dibutuhkan Bangsa, dan bukan tuntutan kapitalisme global untuk kepentingan pribadi. Ada sebagian civitas academica yang keliru menanggapi gejala ini. Mahasiswa ITB malah dicekoki ilmu-ilmu lain untuk menyiapkannya melaksanakan pekerjaan diluar bidang utama ITB. Ini justru mendorong proses hilangnya karakter ITB melalui alumninya!

Para Gurubesar  serta segenap civitas academica yang saya hormati,

Apabila kita mampu memandang gejala ini secara jernih, maka kita akan menemukan tanggapan yang sepantasnya diberikan sebuah lembaga besar seperti ITB. Mewujudkan pendidikan berbasis teknologi yang sungguh-sungguh! Seorang alumni bukan harus dapat juga melaksanakan pekerjaan lain, tetapi yang paling penting, dia harus memiliki kemampuan yang riil ~ tidak hanya yang tertera diatas secarik kertas ~ untuk melaksanakan tugas utama berdirinya ITB, raison d’etre ITB! Dalam kerangka itulah kita harus melihat kebijakan kita mendirikan Sekolah Bisnis dan Manajemen. Dia tidak dimaksudkan untuk sekedar meniru universitas, sekolah, kursus lain yang berlomba-lomba meraih laba dari keranjingan masyarakat yang mendambakan gelar bergengsi. Tetapi kita ingin mengarahkan pengetahuan tentang pengelolaan usaha untuk turut membantu setiap lulusan ITB mengaplikasikan seni, ilmu dan kerekayasaan yang telah didapatkannya dari kampus Ganesha secara nyata dalam masyarakat. Dengan demikian, kita harapkan alumi bukan sekedar melanjutkan eksistensi mengikuti logika kapital, tetapi berupaya memberikan esensi bagi kehidupan Bangsa. Itu hanya akan terwujud apabila insan ITB itu mendapatkan imbalan yang memungkinkan dia dan keluarganya hidup secara pantas.

Dalam kaitan inilah MWA telah memutuskan bahwa dosen dan pegawai harus mendapatkan imbalan yang layak. Lebih tinggi dari sekarang, tetapi tentunya didasarkan atas kinerja. MWA akan lebih aktif berperan dalam perencanaan dan realisasi anggaran agar dapat meningkatkan kemampuan ITB dalam pembiyaan pendidikan. MWA akan mengusahakan dana penelitian bagi kelompok riset yang mengembangkan ilmu yang membawa manfaat besar bagi Bangsa dan rakyat kecil.  Sekaligus kita akan mendorong pengembangan teknologi yang mempunyai dampak besar bagi daya-saing kita, melalui Pusat Inkubator Bisnis dan Satuan Usaha Komersial sebagai cikal-bakal dari Industrial/Technology/Science-Parks. Dalam persiapan pelaksanaan peningkatan imbalan saya sangat salut terhadap sikap Rektor Prof Djoko Santoso dan segenap pemimpin ITB yang ingin mendahulukan dosen dan pegawai lainnya dari pada dirinya sendiri.

Hadirin tercinta,

Transformasi menjadi BHMN merupakan kesempatan emas bagi ITB untuk menentukan kembali jati dirinya. Kita diberikan keleluasaan untuk Menghidupi Roh ITB dan memproklamirkan diri untuk berdikari. Kita harus merebut peluang ini, membangun kemitraan yang setara antara ke empat pilar ITB, dan melaksanakan governance yang tanpa cela. Barulah kita akan dapat dengan tegar menyatakan: Sekarang, ITB mau begini! Untuk itu kita harus mewujudkan pendidikan berbasis kompetensi yang riil, dengan sungguh-sungguh mengejar kesempurnaan dalam bidang keahlian masing-masing. Kita harus dapat berdiri tegak diatas landasan ilmu dan teknologi yang kokoh. Jangan jadikan prestasi nasional sebagai tolak ukur. Sebaliknya, ITB harus tampil sebagai tauladan, sebagai pengharum nama bangsa dalam matra ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.  

Kebiasaan menerima alumni sendiri sebagai calon pengajar harus dapat kita lintasi dengan menjalin jejaring. Cobalah temu-kenali departemen yang qua substansi maupun governance-nya sudah pantas menjadi mitra dalam ‘twinning‘ dengan departemen sejenis yang terbaik di mancanegara. Hanya dengan penyerbukan silang diantara yang terbaiklah kita akan dapat mengatasi proses degeneratif untuk benar-benar tampil sebagai ‘balai persemaian’ para pemimpin nasional yang bertaraf internasional.

Perlu saya tekankan disini, bahwa ITB, sebagai locus excellence bangsa, tidak boleh menjadi yang pertama kali melompat ketika kapal Indonesia dilanda badai besar. Kita tidak dianggap sebagai yang terbaik hanya untuk mengupayakan keselamatan diri sendiri. Ketika bangsa seakan terus menerus menantikan satrio piningit, ITB harus menjawab tantangan tersebut, bukannya ikut bingung atau bahkan meninggalkan gelanggang. Wahai para putra terbaik bangsa, ketahuilah, bahwa dalam suatu bangsa, terdapat individu-individu yang dianugerahi kelebihan agar bangsa tersebut tidak terpuruk. Percayalah, para individu tersebut  pasti akan diminta pertanggung-jawabannya..

Majelis yang berbahagia,

Sebagai penutup, saya ingin sekali lagi mengajak seluruh civitas academica untuk membuang jauh-jauh segala alasan yang selama ini sering dikemukakan untuk menerangkan mengapa kita kurang berprestasi. Para dosen muda dan para ‘gran personae‘, kembalilah kepada fitrahnya sebagai guru. Ajarlah dengan sentuhan manusiawi, nyalakan bara perjuangan dalam sanubari mereka agar ITB benar menjadi ‘alma mater’ bagi mahasiswa kita. Perjuangan meningkatkan harkat dan martabat bangsa membutuhkan pengorbanan yang besar. Majulah melaksanakan hijrah menembus kabut ketidak-tahuan dan melawan kezaliman yang bertopeng ilmu dan teknologi. Majulah, wakafkan diri demi kejayaan ITB dan Bangsa.

MERDEKA!

Bandung, 2 Maret 2005

HS. Dillon
Ketua MWA ITB

Entry filed under: pendidikan. Tags: .

Pidato Pelantikan Rektor ITB Pidato Wisuda ITB Maret 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: