Pidato Pelantikan Rektor ITB

Maret 3, 2008 at 12:12 pm Tinggalkan komentar


MAJELIS WALI AMANAT

INSTITUT TEKNOLOGI  BANDUNG

 HS Dillon Yang saya muliakan para Guru Besar

Yang terhormat Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,

Yang terhormat Para Pejabat Pemerintah Propinsi  Jawa Barat dan Kotamadya Bandung

Yang terhormat Anggota Majelis Wali Amanat

Yang terhormat Pimpinan Senat  Akademik

Yang terhormat Saudara Rektor

Yang saya cintai mahasiswa sekalian sebagai “the rising generation”…

Para hadirin yang saya hormati 

Selamat pagi.

Hadirin yang terhormat, Sudah sepatutnya kita bersyukur kehadirat Illahi Rabbi, karena hanya berkat ridho-Nya kita semua dapat bersama dalam majelis  yang berbahagia pagi hari ini. Pidato yang disusun berdasarkan sumbang saran berbagai pihak bertajuk: “MEMBANGUNKAN ROH ITB”. Semoga segala yang disampaikan ini menyentuh sanubari, menggugah imajinasi, mencerahkan akal budi, menggerakkan kita untuk membangun sebuah komunitas akademik yang tangguh; yang bukan hanya mampu meningkatkan kualitas ITB itu sendiri, tetapi lebih maju lagi, mampu memberikan essensi yang  berkarakter bagi eksistensi Bangsa.   

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati, 

‘Universitas’, yang berinduk dari kata ‘universum’  bukanlah sekedar instalasi ajar-mengajar ilmu pengetahuan untuk menghasilkan sarjana-sarjana bidang tertentu saja, melainkan lebih dari itu, juga untuk belajar lebih mengenali, menghayati dan memahami alam semesta.  Oleh karena itu, seyogyanya ITB tidak sekedar menghasilkan “insinyur tukang”, melainkan juga melahirkan pemikir yang mengenali dan mengerti keterkaitan disiplin ilmunya dengan realitas kehidupan alam, sosial, budaya, ekonomi, ekologi, dan politik yang melingkari kehidupan masyarakatnya. Sebagaimana berulang dibuktikan oleh kepeloporan dan kejuangan alumni ITB yang mewakafkan dirinya untuk Bangsa, seperti Bung Karno, Djuanda, Sutami, dan yang lainnya.  

Semangat keberpihakan ini telah ditegaskan Bung Karno dalam pidatonya dikampus ini yang berjudul: “Ilmu Teknik Harus Mengabdi Masyarakat Adil dan Makmur” tatkala menerima anugerah Doctor Honoris Causa. Proklamator mengingatkan bahwa tujuan kita sebagai manusia Indonesia adalah menjebol exploitation de l’homme par l’homme , senantiasa melakukan seek and reseek, think and rethink yang dilandasi oleh dedication of life kita yang tertinggi membangun  Indonesia yang gemah ripah loh jinawi.  

 Para hadirin  yang saya hormati. 

Sebagai bangsa bekas jajahan, sampai saat ini masyarakat Indonesia masih memiliki kelembagaan ekstraktif warisan kolonialisme maupun feodalisme. Pada saat yang sama, Bangsa Indonesia mau tidak mau, suka tidak suka harus masuk ke dalam pusaran arus deras globalisasi sistem ekonomi pasar (kapitalisme global) yang ditandai dengan leluasanya gerak modal negara maju menerjang batas-batas kedaulatan negara berkembang. Maka jelaslah bahwa bangsa Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan yang bersifat multidimensional. Di sini timbul kemudian pertanyaan yang menyesakkan dada,  apa yang dapat kita sumbangkan untuk mengatasi tantangan bangsa tersebut?

Dalam memberikan jawaban kita harus kembali mengingat bahwa harkat dan martabat bangsa baru akan terangkat manakala kita berhasil mewujudkan Trisakti, yaitu: berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Untuk itu, sekali lagi, seyogyanyalah segenap proses pendidikan, penelitian dan pengabdian kita bermuara pada terwujudnya tujuan bangsa tersebut, bukan sebaliknya.  

Majelis yang berbahagia, 

Sudah jamak diketahui bahwa peradaban suatu bangsa diukur dari kemampuan bangsa itu dalam mengembangkan ilmu pengetahunan dan menguasai teknologi. Namun, dalam hal ini hendaknya kita tidak terjangkit amnesia. Industri-industri mercu suar dan konstruksi-konstruksi mutakhir ternyata hanya menjadi prasasti obsesi kita akan kemegahan, dan gagal memanifestasi peran hakiki ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu membebaskan rakyat dari jerat kemiskinan. Adalah kezaliman dan pengkhianatan terhadap pengorbanan para pejuang apabila ITB dengan sadar, atau sengaja tidak sadar— terus mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan seni yang dikuasainya dalam ranah yang jauh dari hakikat merdekanya bangsa ini yaitu kecerdasan kehidupan bangsa dan kesejahteraan rakyat.  

Hadirin yang saya muliakan, 

Para pemimpin seakan tidak mau memahami penderitaan rakyat. Ternyata Tsunami 1997 yang memiskinkan demikian banyak rakyat sekalipun tidak mampu menjadi ”catastrophic learning experience” bagi para elit. Kesenjangan yang tetap menganga antara retorika dengan kenyataan, yang ditunjukkan oleh masih banyaknya koruptor yang bergentayangan, memaksa kita menyimpulkan bahwa mayoritas elit pemimpin memang munafik. Mereka senantiasa menempatkan diri, keluarga dan golongan di atas kepentingan rakyat. Perkembangan akhir-akhir ini menimbul kekhawatiran akan kemampuan pemerintah mewujudkan perubahan hakiki dalam harkat dan martabat Bangsa.  

Oleh karena itu, berlandaskan roh kepeloporan dan kejuangannya, ITB harus kembali tampil memberikan teladan antara lain dengan menemukan pilihan teknologi yang senafas dan selaras dengan kebutuhan rakyat Indonesia – demi mewujudkan masyarakat adil makmur sebagai hakikat hidup merdeka. Dengan ITB, Teknologi harus mampu tampil sebagai garda depan pembangunan kebudayan bangsa Indonesia yang maslahat. Artinya, seperti sering saya kemukakan diberbagai kesempatan, agar kita membangun berdasarkan pada paradigma people driven. Sehingga seluruh kebijakan yang disusun, kelembagaan yang dibangun, dan teknologi yang dipilih tidak semata-mata tunduk pada supremasi modal.

Dalam kaitan ini, saya merasa perlu mengingatkan para sivitas akademika ITB bahwa Keputusan Pemerintah untuk memberikan otonomi kepada kita adalah sebuah golden opportunity yang harus dimanfaatkan secara cerdas. Kini, kita bukan lagi kepanjangan tangan dari kuasa pihak lain. Manakala kita kelola kebebasan ini berdasarkan good governance, maka kita akan menjadi sehat, sehingga dapat menentukan masadepan kita sendiri. Untuk itu saya harapkan komitmen yang sungguh-sungguh dari dosen,  pegawai, dan mahasiswa untuk menjalin kemitraan dan melangkah maju bersama. 

Di samping itu, kita juga hendaknya sungguh-sungguh membuka diri pada perkembangan pemikiran di bidang teknologi yang berperikemanusiaan, menghormati keberlanjutan, dan dapat menciptakan lapangan kerja baru yang lebih adil dan manusiawi. Dan, terakhir, oleh karena teknologi bukanlah sesuatu yang bebas nilai, insan ITB sudah selayaknya mengutamakan nurani dalam berkarya, untuk mencegah munculnya teknologi yang merendahkan martabat manusia dan kemanusiaan.  

Akhirnya, di penghujung pidato ini, perkenankan saya mengutip Paulo Freire, yang menegaskan bahwa: 

 “ …… pendidikan yang dituntut oleh situasi kita ialah pendidikan yang membuat manusia berani membicarakan masalah-masalah lingkungannya dan turun tangan dalam lingkungan tersebut, pendidikan yang mampu memperingatkan manusia dari bahaya-bahaya zaman dan memberikan kepercayaan dan kekuatan untuk menghadapi bahaya-bahaya tersebut, bukan pendidikan yang menjadikan akali kita menyerah pada keputusan-keputusan orang lain. Dengan mengajak manusia terus-menerus melakukan penilaian kembali, menganilisis ‘penemuan-penemuan’, menggunakan metode-metode dan proses-proses ilmu pengetahuan, dan melihat diri sendiri dalam hubungan dialektis dengan realitas sosial, pendidikan ini akan menolong manusia untuk meningkatkan sikap kritis terhadap dunia dan dengan demikian mengubahnya”. 

Anggota majelis yang berbahagia, 

Kesempatan ini ingin saya pergunakan untuk menyampaikan penghargaan dan terima kasih secara khusus kepada para Guru Besar “gran personae”, yang bahu-membahu dengan segenap sivitas akademika telah mengantarkan ITB sampai pada posisi sekarang ini. Keberhasilan ini tidak boleh menina-bobokkan kita, sehingga kita lupa untuk senatiasa “…. learn, unlearn, and relearn 

Ditengah-tengah badai krisis nilai yang sedang menerpa bangsa, ITB harus teguh sebagai  Bastion of Civility, yang senantiasa mengawal nilai-nilai integeritas dan kualitas dengan setia. Insan ITB harus paham dan yakin betul atas mandat moral dan kredo yang diembannya sebagai warga “balai persemaian” benih-benih kepemimpinnan, kepeloporan, kejuangan, keteladanan dan kesempurnaan (excellence) bangsa. Sebagai insan-insan yang dianugerahi dengan kecerdasan dari Illahi, kita akan diminta pertanggung-jawaban atas pengamalan ilmu-ilmu yang kita miliki di dunia ini. Kemitraan sukses antara kearifan Guru Besar dengan semangat dosen muda yang akan menentukan kemampuan Ganesha untuk menjelma sebagai Vanegshwar,  penyapu rintangan agar bangsa mampu menunggang gelombang kapitalisme global yang dahsyat.   

Kepada Profesor Djoko Santoso, kita ucapkan Selamat, semoga Rabb memberikan kekuatan untuk melaksanakan amanah sebagai Rektor ITB periode 2005-2010. Dengan kearifan, keteladanan, dan kepimpinannya yang tulus kita yakin beliau akan dapat mengantar  Institut Teknologi Bandung kepada tataran yang lebih tinggi lagi. 

MERDEKA!!! 

HS. Dillon

Ketua,

Bandung, 29 Januari 2005

Entry filed under: pendidikan. Tags: .

HS Dillon Pidato Dies ITB 2 Maret 2005

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: