DIAGRAM TEKSAIN

Juli 22, 2008 at 3:54 pm Tinggalkan komentar


SAUDARA pengunjung Denggleng’s Blog. Berikut saya menampilkan diagram teknologi-sain-engineering (teknologi-ilmupengetahuan-perekayasaan). Diagram saya adopsi dari Pohon Ilmu di buku Pokok-pokok Hortikultura yang ditulis oleh Jules Janick dan terbitan 1986. Buku yang sudah cukup tua. Maka ada beberapa poin yang saya tambahkan, terutama pada engineering dan di titik Agronomi dan Hortikultura.

Bukannya apa, karena saya kadung mengaku sebagai seorang hortikulturis dari sub-sub sektor Pomology (juga Viticulturis), sehingga sering merasa “gemes” jika mendengar pernyataan: “IPB tuh hasilnya mana, masak yang terkenal yang serba bangkok…” Tapi ya gimana lagi, itulah risiko IPB menggunakan nama Institut PERTANIAN Bogor. Karena Pertanian kadung dianggap identik dengan bercocok tanam, identik dengan buah, dengan sayur, pangan, padi dan lain sebagainya. Tanpa mau tahu bahwa IPB itu institut (bentuk perguruan tinggi) yang mempelajari dan mengembangkan ilmupengetahuan-teknologi dan seni di sektor pertanian dan pendukungnya.

Gampangnya, kita lihat saja. Bahwa dunia bercocok tanam itu hanya ada di Agronomi dan Hortikultura dan sedikit di Agroforestry. Lho kenapa yang Veterinary (peternakan dan kehewanan) tidak juga ditinjau. Kenapa bidang engineering yang di IPB cuma nuklir dan metalurgi saja yang belum dirambah. Tentang teknologi yang sedemikian beragam tidak dianggap?

Kenapa demikian simpelnya orang menilai IPB? Ah, mungkin ya karena IPB sendiri yang kurang melihat atau merasa bahwa ranah yang dikembangkan, dipelajari kemudian disebar luaskan baik melalui lulusannya maupun para akademisinya sebenarnya adalah komponen dari suatu BUDAYA. Budaya inilah yang sering kali dilupakan oleh para akademisi kelompok engineering dan teknologi serta sain. Budaya kadung mereka anggap sebagai ranahnya orang-orang dari sisiplin ilmu sosial, padahal bukan. BUDAYA terkait erat dengan SENI dan meliputi seluruh sendi TEKSAIN dan ENGINEERING. Namun, berhubung para akademisi bolehnya belajar biasanya melepaskan diri dari budaya setempat (tempat mereka menimba ilmu dan mempertajam teknologi serta mempercanggih engineering) dan ketika pulang kandang (kampus) merasa lepas juga dengan budaya di mana IPB berada. Budaya SUNDA.

Seharusnyalah IPB bisa menjadi penguat dan penumbuh kembang budaya dan peradaban SUNDA yang diperkaya dengan IPTEKS. Bukan sebaliknya menyingkirkan budaya SUNDA dari khasanah akademik IPB, malah justru memuja BUDAYA lain…:-)

–nuhun–

Entry filed under: Budaya, pendidikan, pertanian. Tags: , .

Merajut Kembali Ke-Indonesia-an Kita RANAH PENDIDIKAN TINGGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: