RANAH PENDIDIKAN TINGGI

Juli 22, 2008 at 5:08 pm Tinggalkan komentar


Saudara sekalian, setelah mempost DIAGRAM TEKSAIN, saya masih punya uneg-uneg lagi tentang PENDIDIKAN TINGGI. Dulu beberapa minggu setelah kabinet baru terbentuk, dan Mendiknas baru meminta pendapat beberapa tokoh pendidikan tentang pemberlakuan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi) di PT, maka secara tidak ternyana-nyana saya bisa ikut hadir di diskusi para tokoh sepuh itu. Wah, ya ruame skaleee.. sampai akhirnya ada yang nyeletuk, bahwa KBK = Kurikulum Berbasis Kebingungan.. he he heheee…

Kenapa? Ya karena kompetensi itu ditujukan untuk kurikulum pendidikan vokasional. Dari akademi bahasa sampai akademi angkatan bersenjata… lulusnya memang memenuhi kompetensi minimal dari bidang yang dilatih dan dipelajari. Lha kalau pada pendidikan umum, ya jadi itu…. membuat bingung para guru (dan dosen).  Apalagi lalu muncul istilah Kompetensi Utama dan Kompetensi Pendukung…:-). Dan memang akhirnya KBK tidak jadi diberlakukan. Apalagi lalu pada sibuk ngurusi UU SISDIKNAS… ehek-ehek, UGD dan RUU BHP yang langsung dan tidak langsung membuahkan heboh sertifikasi guru dan dosen….🙂

Tapi bukan itu lah yang ingin saya kemukakan. Saya justru tertarik akan sesorah kolega sepuh saya Ir Hadiwaratama, MSc, yang memaparkan Proses Teknolgi dan Pipa Engineering, jika diproyeksikan pada pendidikan tinggi dari akademi, politeknik, ST, Institut dan Universitas. Pak Hadi menyampaikan diagram juga, dengan petak utama Perancangan (Design ), Rekayasa dan Pengembangan (Enggineering & Development) dan Riset (Reasearch) yang komponennya harus ada secara proporsional di Pendidikan Tinggi Akademik (S1-S2-S3) dan tidak perlu ada (opsional) pada Akademi dan Politeknik serta tidak ada pada pendidikan Vokasional.

Pada jenjang S1 maka proorsinya kira-kira 1/4 proses produksi, 1/4 perancangan, 1/4 pengembangan dan rekayasa dan 1/4 riset. Pada S2 menjadi 1/2 perancangan dan pengembangan dan 1/2 riset. Jenjang S3 sepenuhnya riset. Maka kadang saya jadi heran ketika ada pendidikan jenjang S2 kok hybrid gitu lho.. ya akademik (gelarnya Magister) tetapi juga profesional (ada embel-embel di belakang Magisternya). Apalagi jika yang menyelenggarakan adalah suatu PT dari kelompok IPTEK, tetapi tidak tegas memisahkan program HYBRID itu dengan nama lain.. misalnya Sekolah Bisnis dan Manajemen…

Bukannya apa, saya sering merasa kasihaaaan gitu pada mahasiswa-mahasiswa dari jalur S2/S3 reguler yang dengan teguh memegang aturan PIPA ENGINEERING jika dibandingkan dengan sekolah-sekolah penyelenggaraan khusus. Pasalnya, ketika lulusan S1 atau S2 melanjutkan ke jenjang pendidikan lanjut, kok tidak ada pembedaan gitu lho antara lulusan penyelenggaraan khusus dan reguler…

Ning ya gimana, wong urusan sertipikat yang terkait 1 kali Gapok saja begitu heboh, je…🙂 Padahal penyelenggaraan khusus kan jadi salah satu alasan tidak begitu bergantungnya dosen dengan sertipikasi…:-(.

Entry filed under: Budaya, pendidikan. Tags: .

DIAGRAM TEKSAIN Idul Fitri 1429 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: