Bahasa yang Dilecehkan Bangsa

Oktober 27, 2008 at 3:23 pm 2 komentar


Bahasa yang Dilecehkan Bangsa

Pusat Bahasa Depdiknas merencanakan gelar akbar Kongres Bahasa Indonesia VIII di Jakarta pada 14-17 Oktober 2003 mendatang. Oktober adalah bulan bahasa, berpijak pada peristiwa diikrarkannya tiga prasetya Sumpah Pemuda dalam peristiwa Kongres Pemuda 28 Oktober 1928.

Ini menarik, karena dalam peristiwa Sumpah Pemuda itu para embrio bangsa, para pemuda, yang 17 tahun kemudian menjadi tokoh sentral proklamasi dan perjuangan kemerdekaan NKRI mengikrarkan prasetya terhadap bangsa yang satu dan tanah air yang satu, Indonesia, serta menjunjung satu bahasa kebangsaan, Bahasa Indonesia. Padahal, bangsa dan tanah air Indonesia saat itu jelas belum lahir, belum ada. Tetapi dengan menjunjung satu bahasa kebangsaan, para pemuda yang semula masih bersemangat kedaerahan cukup kental, melebur menuju satu bangsa yang bertanah air di persada bumi Indonesia. Bahasa Indonesia, berarti sejak sebelum negara dan bangsanya lahir, telah menjadi alat pemersatu bangsa. Sehingga wajar dari ketiga Sumpah Pemuda itu hanya Bahasa yang diangkat untuk diperingati pada bulan Oktober. Mengapa tidak ada Bulan Bangsa dan Bulan Tanah Air? Atau, mengapa tidak sekaligus saja Oktober adalah Bulan Bangsa, Tanah Air, dan Bahasa?

***


Yang jelas dengan penetapan Oktober sebagai Bulan Bahasa, artinya Bahasa Indonesia memperoleh kedudukan yang lebih penting dibandingkan Bangsa dan Tanah Air. Logikanya, karena pada Oktober 1928 itu, bangsa Indonesia baru berupa cita-cita. Tanah air Indonesia, lebih-lebih lagi masih menjadi tujuan untuk diperjuangkan kemerdekaannya. Tetapi bahasa Indonesia – yang diambil dari bahasa Melayu – sudah ada. Bahasa Indonesia sudah menjadi realita ke-Indonesiaan, dalam pergaulan antar warga – calon – bangsa Indonesia di seantero – calon – tanah air Indonesia. Akhirnya, bahasa Indonesia secara konstitusional ditetapkan oleh para pendiri NKRI sebagai bahasa negara, bukan hanya bahasa kebangsaan atau bahasa nasional. Bahasa Indonesia menjadi milik bangsa dan negara Indonesia.

Bahasa nasional berfungsi sebagai lambang identitas nasional, alat pemersatu berbagai suku bangsa, dan alat komunikasi antar daerah dan budaya bangsa Indonesia. Bahasa negara berfungsi sebagai bahasa resmi negara, bahasa pegantar dalam dan antar lembaga negara, bahasa pengantar lembaga pendidikan, alat komunikasi tingkat nasional, dan media pengembangan budaya, ilmu, teknologi, serta seni. Malahan, agenda Kongres Bahasa Indonesia VIII yang akan datang telah direncanakan padat tetapi luas dengan tiga cakupan pembahasan, yaitu bahasa, sastra, dan media massa. Tema kongres pun demikian besarnya, berbunyi “Pemberdayaan Bahasa Indonesia dalam Era Globalisasi”.
***

Akan tetapi seperti kata pepatah “Bahasa menunjukkan bangsa”, maka penggunaan bahasa Indonesia oleh masyarakat Indonesia saat ini mencerminkan sikap bangsa Indonesia yang enggan bertanggung jawab, makin tidak mengenal tata krama, dan miskin imajinasi. Demikian pengantar berita liputan upacara pengukuhan guru besar tetap Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Iniversitas Indonesia, Apsanti Djokosujatno (Kompas 24/7 hlm 9). Sebelumnya, sejarawan Asvi Warman Adam, mengisi rubrik bahasa Kompas (19/7 hlm 12) dengan tulisan berjudul Bahasa dan Pelanggaran HAM. Tulisan Asvi berisi tentang penyalahgunaan istilah-istilah dalam bahasa, terutama bahasa Indonesia, yang terkait dengan tindakan pelanggaran HAM. Istilah disekolahkan bermakna pembantaian atas Tengku Bantaqiah dan para santrinya. Istilah penggalangan digunakan sebagai kata sandi pada peristiwa pembunuhan tokoh Papua Theys Eluai. Itu hanya dua contoh penyalahgunaan bahasa Indonesia dalam tindak pelanggaran HAM yang tergolong kelas berat.

Kompas 28/7 hlm 9, juga menurunkan berita liputan Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta ketujuh. Judul berita itu cukup memprihatinkan berkenaan dengan Bahasa Indinesia, “Kesantunan Berbahasa Cenderung Menurun.” Sungguh memprihatinkan, karena bahasa kebangsaan yang dahulu diprasetyakan untuk dijunjung oleh para embrio bangsa, dewasa ini diterapkan dengan kesantunan berbahasa yang semakin menurun. Apalagi pengguna/penutur yang disoroti adalah para wakil rakyat! Bahasa benar-benar menunjukkan bangsa!

Jadi, meskipun tinjauannya berbeda, Pernyataan Apsanti, tulisan Asvi, dan kandungan berita di atas, menyiratkan hal serupa, yaitu pelecehan terhadap suatu bahasa oleh bangsa penuturnya sendiri. Bahasa Indonesia dilecehkan oleh bangsa Indonesia! Ini sungguh memprihatinkan, karena bukan begitulah seharusnya hakikat bahasa Indonesia terhadap eksistensi bangsa penuturnya ini. Bahasa Indonesia telah menjadi salah satu dari tiga sumpah prasetya para pemuda Indonesia tahun 1928, justru sebelum negara Indonesia sendiri lahir. Selanjutnya bahasa Indonesia secara konstitusional ditetapkan oleh Founding Fathers negara ini sebagai Bahasa Negara. Tetapi apa yang dilakukan oleh bangsa penuturnya dalam era globalisasi dewasa ini?
***

Bahasa adalah kesatuan perkataan beserta sistem penggunaannya yang berlaku umum dalam pergaulan antar anggota suatu masyarakat atau bangsa. Masyarakat atau bangsa merupakan sekelompok manusia atau komunitas dengan kesamaan letak geografi, kesamaan budaya, dan kesamaan tradisi. Dengan demikian, selain memiliki fungsi utama sebagai wahana berkomunikasi, bahasa juga memiliki peran sebagai alat ekspresi budaya yang mencerminkan bangsa penuturnya. Kecakapan berbahasa suatu bangsa mencerminkan budaya bangsa yang terwujud dalam sikap berbahasa itu sendiri. Sikap berbahasa yang dilandasi oleh kesadaran berbahasa akan membangun rasa cinta, bangga, dan setia terhadap bahasa dan terhadap bangsa.

Bahasa Indonesia, dengan demikian, adalah bahasa yang menjadi wahana komunikasi dan alat ekspresi budaya yang mencerminkan eksistensi bangsa Indonesia. Pengembangan sikap berbahasa yang mencakup kemahiran berbahasa Indonesia dalam wadah pendidikan formal (sekolah) dilaksanakan melalui mata pelajaran dan mata kuliah Bahasa Indonesia. Dengan demikian hakekat pemelajaran Bahasa Indonesia adalah pemelajaran untuk menjadikan peserta didik memiliki kemahiran berbahasa Indonesia baik dalam berkomunikasi lisan maupun tertulis yang mencerminkan kesadaran berbahasa sebagai bangsa Indonesia yang telah menetapkan bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara.

Kemahiran berbahasa Indonesia harus selalu diupayakan oleh seluruh penuturnya agar memiliki sikap berbahasa yang positif. Sikap berbahasa positif itu akan membawa kesetiaan, kebanggaan, dan kecintaan kepada bahasa Indonesia. Dengan demikian, Bahasa Indonesia dapat memenuhi fungsi luhurnya sebagai alat pemersatu bangsa. Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa, mungkin lebih efektif dibandingkan alat-alat pemersatu yang lain, karena dengan bahasa berarti komunikasi dan saling pengertian antar warga bangsa dapat terwujud! Maka dari itu janganlah sekali-kali melecehkan Bahasa Indonesia dalam aktivitas apa pun.

Kedudukan, kehormatan dan keluhuran bahasa Indonesia sebagai bahasa negara, alat pemersatu bangsa, siapa lagi yang wajib memelihara selain bangsa penuturnya, bangsa Indonesia? Sebab, populasi pengguna dan penutur Bahasa Indonesia jelas lebih banyak dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di negeri ini, baik bahasa daerah maupun bahasa asing. (Bogor, 29 Juli 2003)
 

Winarso D. Widodo

Anggota tim pengembangan kurikulum Bahasa Indonesia untuk SMK-’03

Entry filed under: Budaya, pendidikan. Tags: .

Metafora Gamelan Kepemimpinan PT-BHMN Prof. Dr. Ir. Sarjana Utama, MSi.

2 Komentar Add your own

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: