Prof. Dr. Ir. Sarjana Utama, MSi.

Oktober 28, 2008 at 1:47 pm 2 komentar


DOKTOR (Dr.) Kuswata (bukan nama sebenarnya) adalah dosen utun PTN. Dia berprinsip pekerjaan dosen itu menyampaikan ilmu pengetahuan kepada mahasiswa dan melaksanakan penelitian dalam rangka ikut berusaha mewujudkan visi perguruan tinggi tempatnya bekerja. Dapat dianggap Kuswata mengikuti mazab Andi Hakim Nasution, bahwa TUJUAN Perguruan Tinggi adalah untuk menemukan kebenaran baru atau menemukan cara baru agar kebenaran itu dapat lebih bermanfaat.

Pendeknya tujuan umum PT adalah mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni (IPTEKS) dalam rangka memajukan kecerdasan kehidupan bangsa. Apalagi seorang Doktor yang menurut pengertiannya adalah: Doctor of Philosophy is the highest degree awarded by a graduate school, usually to a person who has completed at least three years of graduate study and a dissertation approved by a board of professors.

Ya, Kuswata memang doktor betulan. Dia memperoleh gelar PhD karena berhasil lulus sekolah program doctorate (S3) dari suatu universitas di luar negeri yang bertaraf internasional. Sebagai tanda bukti bahwa dia lulus doktor adalah disertasi yang berhasil dia pertahankan di hadapan beberapa Profesor di universitas itu dalam suatu Ujian Terbuka Program Doktor Sekolah Pascasarjana Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi (The Graduate School of Natural Science and Technology). Tidak tanggung-tanggung, berhubung universitasnya adalah universitas riset, maka selama menempuh pendidikan S3-nya (4 tahun) Kuswata melaksanakan serangkaian penelitian terus-menerus. Dia juga berhasil memublikasikan lima karya ilmiahnya di jurnal bertaraf internasional dan ada puluhan catatan penelitian (Research Notes) di berbagai jurnal ilmiah domestik di negara tempat dia kuliah S3.

Mengingat prestasinya di dunia akademik dan publikasi ilmiah internasionalnya, banyak teman-temannya heran terhadap Kuswata. Mereka heran karena Kuswata memperoleh surat peringatan dari ketua departemennya agar segera mengurus kenaikan pangkat. Ya, ternyata Kuswata yang telah bekerja di PTN itu selama hampir 20 tahun, pangkatnya tetap ngendon di jabatan Asisten Ahli atau III/a, masih sama persis dengan ketika dia berangkat studi ke luar negeri. Mereka heran, karena adik-adik kelas Kuswata rata-rata sudah berjabatan “Lektor” bahkan beberapa sudah berhasil meraih jabatan “Guru Besar” atau “Profesor”.

Secara kasar jabatan guru besar akan diperoleh oleh dosen yang telah berhasil mengumpulkan catatan prestasi kerja akademik dalam bentuk angka kredit (KUM) 800 sampai dengan 1000 yang terdiri atas darma
pendidikan, darma penelitian dan darma pengabdian pada masyarakat (Tri Darma Perguruan Tinggi). Teman-temannya yakin bahwa Kuswata sudah memiliki angka KUM yang 1000 itu. Hasil studi doktornya pun bila dihitung sudah menyumbang ratusan angka KUM. Apalagi bila diperhitungkan aktivitas akademiknya selama dia studi di luar negeri sebagai aktivis Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) yaitu keterlibatannya dalam penyelenggaraan pertemuan-pertemuan ilmiah yang diselenggarakan PPI cabang negara dimana dia studi doktor. Sepulangnya dari studi Kuswata juga aktif di organisasi profesi ilmiah di bidang disiplin ilmunya. Kuswata juga sering tampil menjadi pembicara di berbagai forum ilmiah (Fora Academica).

Masalahnya hanya satu saja. Kuswata malas mengurusnya, terutama mencari “tanda-tangan” pengesahan atas karya-karya ilmiahnya, terutama pekerjaannya yang tergolong pada kelompok darma pengabdian kepada masyarakat. Ini akibat idealismenya yang keterlaluan. Dia berpendapat bahwa bekerja sebagai dosen, apalagi dosen PTN adalah wujud pengabdian kepada masyarakat yaitu dalam ragka ikut berusaha¬†mencerdaskan kehidupan bangsa.

Akibatnya Kuswata di lingkungan kerjanya selain menjadi “pujaan” sekaligus menjadi sasaran empuk “ledekan”. Terutama karena jabatannya yang tetap sebagai Asisten Ahli, maka ada kemungkinan dia dipensiun muda. Itu pun Kuswata tetap bisa berkelit dengan mengatakan: “Ah, yang pensiun itu kan Kuswata sebagai PNS, kalau Doktor Kuswata kan tidak bisa dipensiun… hehehe”. Ketika hangat-hangatnya berita penganugerahan Doctor Honoris Causa dari Global University, dari American World University, American University of Hawaii dan lain-lain “Some Where University”, Kuswata malah menjadikannya bahan ledekan bagi teman-temannya yang sedang berjuang keras kuliah S3 di almamaternya. Kuswata malah menyatakannya bak peribahasa menjadi “Banyak Jalan Meraih Doktor, jadi mengapa kalian pilih payah-payah kuliah? Beli saja bisa kok. Toch yang sudah mendapatkannya juga aman-aman saja. Lembaga-lembaga pemberi gelar Dr HC itu juga aman-aman saja, tetap lancar beroperasi, malah banyak penggemar…”

Nah, akhir-akhir ini ada berita bawa ada mantan artis dan artis dangdut terkenal memperoleh “Gelar Kehormatan” berupa “Professor”. Kuswata mau tak mau mengernyitkan dahi sampai berlipat-lipat. Ini gara-gara juga prinsipnya yang sangat-sangat berbasis kamus. Dia sangat berpegang pada pengertian “Professor” dalam suatu kamus Inggris-Inggris yang demikian: Professor is a teacher of the highest academic rank in a college or university, who has been awarded the title Professor in a particular branch of learning.

Pasalnya, Kuswata sangat mengerti bahwa pemberian gelar “Profesor Kehormatan” itu adalah suatu tindakan yang sangat bodoh dan keterlaluan menipunya, karena profesor bukan gelar akademik, tetapi jabatan kademik. Padahal dia paham juga bahwa sebagai public figure para penyandang “Professor HC” itu tentunya bukan orang bodoh. Yang dia tahu mereka bukan dosen dari suatu universitas atau sekolah tinggi atau institut. Sedang pemberian gelar Dr HC secara massal pun sudah sangat keterlaluan menipunya, apalagi pemberian “Professor HC”. Maka Kuswata heran bahwa beberapa public figures itu mau-maunya ditipu. Apalagi malah ada yang menyatakan kebanggaannya bahwa gelar profesor itu merupakan pengakuan dunia internasional terhadapnya.

Apalagi PTN tempatnya bekerja memiliki visi “menjadi universitas bertaraf internasional”. Lho, dia hingga sekarang masih ikut berupaya mewujudkan visi PTN-nya menjadi bertaraf internasional kok sekarang sudah ada yang “jualan” gelar internasional? Tetapi bukan Kuswata bila tidak mampu membuatnya sebagai bahan guyon. Baru saja dia berseloroh: “Wah, sayang aku sudah cukup berumur sehingga sudah telat bila punya anak lagi.”

Saya bertanya: “Lho, memang kenapa?”

“Hehehe, kalau misalnya aku punya anak lagi dan kebetulan laki-laki biar nggak usah payah-payah kuliah sepertiku, akan aku beri nama dia “Profesor Doktor Sarjana Utama”…..” Saya hanya bisa diam dan menerawang untuk mencoba membaca perasaan Doktor Kuswata, tokoh imajiner pujaan saya itu. Dan saya jadi ingat bunyi pasal 70 ayat (1) UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas: “Setiap orang yang menggunakan ijazah dan atau sertifikat kompetensi serta gelar akademik yang terbukti palsu dipidana dengan pidana penjara paling lama lima tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500. 000. 000,00 (lima ratus juta rupiah).”

Menjadi sadar bahwa para penyandang gelar profesor kehormatan itu tidak dapat dipidana apapun, karena “profesor” bukan gelar akademik juga sertifikatnya bukan palsu! Lembaga pemberi gelarnya juga tidak dapat dituntut, kerena mereka bukan penyelenggara satuan pendidikan, sehingga tidak perlu akreditasi. Semua itu hanyalah hubungan antara Si Penipu dan Si Tertipu. Meskipun sebagai bahan tipuan adalah gelar Profesor Kehormatan.

Bogor, 18 Januari 2005
Ki Denggleng Pagelaran
Pengamat Pendidikan tinggal di Bogor
catatan: Sarjana Utama (SU) adalah sepadan dengan
gelar MS atau MSi yang pernah digunakan bagi lulusan
S2, misalnya dari UGM pada era 80an

Entry filed under: Budaya, pendidikan. Tags: .

Bahasa yang Dilecehkan Bangsa Sumur Sinaba

2 Komentar Add your own

  • 1. Iyung Pahan  |  April 16, 2009 pukul 3:50 am

    Mas Winarso,

    Minta email addresnya dong, saya mau minta izin untuk menggunakan sebagian tulisan mas tentang Dr Kuswata si tukang pipa air sebagai salah satu bahasan dalam buku kewirausahaan yang akan saya terbitkan.

    Wassalam,
    Iyung Pahan

    iyung_pahan@yahoo.com

    Balas
  • 2. propbiyang  |  April 16, 2009 pukul 12:17 pm

    he he sory, blog ini jarang tak buka. maklum lagi menyiapkan situs http://www.wfbc2009.com yang isinya masih copyan http://www.propbiyang.net. alamat e-mailku sekarang yang sering saya buka ada di wdwidodo@gmail.com atau pakai acc blog ini, propbiyang@gmail.com. nuhun.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: