Eskapisme dan Cara Aman Penyajiannya

Oktober 16, 2009 at 2:06 pm Tinggalkan komentar


Cak Gigih Nusantara commented on your note “SUMUR SINABA: Visi Lembaga Pendidikan…

Petilasan Jayabaya

Petilasan Jayabaya

Banyak cara un tuk mengusahakan terjadinya penglepasan energi yang menghimpit, yang harus dilepas pada saatnya, sebab jika tidak, maka akan terjadi ledakan yang justru tak terkendali dan merusak. Katup-katup pengaman itu, antara lain, dengan mencoba membaca primbon (jangka) yang ditulis para pujangga, dengan anggapan bahwa para sufi ini sudah membuat jarak terhadap keduniawian, sehingga apa pun pendapat yang mereka sampaikan dapat dianggap berasal dari sebuah mata air yang suci, jauh dari pencemaran kepentingan manusiawi.

Salah satunya yang saya terima kemarin dari KDP, mengenai kutipan Sudjiwo Tedjo terhadap karya Yosodipuro, mengenai siklus kejayaan Nusantara yang berlangsung 700-tahunan, yang jika diambil sejak rutuhnya Majapahit 500 tahun lalu, maka masih harus menempuh perjalanan 200 tahun lagi. KDP menambaahkan, mungkin generasi ke-4 atau ke-5 dari kita-kita saat ini.

Saya hanya ingin menambahkan sekedar catatan sekenanya semata, maklum saya bukan tergolong penghayat kepercayaan, bahkan caraku beragamapun sama sekali jauh dari ideal. Hanya bermain-main dengan logika yang sama sekali tak punya dukungan keilmiahan babar blas. Asnjep, asal njeplak.

Pertama, kalau benar 200 tahun lagi, maka itu artinya generasi ke-10, bukan 4 arau 5, sebab biasanya, menurut pengetahuanku yang sangat dangkal, ukuran generasi adalah tiap 20 tahun.

Kedua, saya bisa memahami mengenai bagaimana sementara orang mencoba mencari-cari cara untuk menciptakan lubang yang mampu mengendurkan tekanan, yang antara lain melali primbon, jangka mengenai roda kehidupan sebagai sebuah siklus, yang diartikan sebagai agar setiap orang yang sedang menghadapi beban tak perlu terlalu berkeluh-kesah, sebab seperti roda, maka ada kalanya kia berada di bawah, namun suatu waktu, pasti akan kembali ke atas. Masalahnya, kapan?

Dengan pintarnya para pujangga tadi membuat sebuah rentang waktu yang sedemikian panjang, kalau roda pasti besar sekali, yang bilangannya ratusan tahun. Jadi, setidaknya, bisa meredam kegelisahan unruk sebuah penantian yang panjang, yang diimbuhi dengan fatwa kesabaran dan ketawakalan, istiqomah. Alangkah damainya bumi ini, jika semua orang mampu bersabar ratusan tahun, untok sebuah penantian yang akan menempatkannya sebagai ahli sorga, bukan?

Dengan jangka yang ratusan tahun tersebut, maka ada kemungkinan muncul berbagai tafsir, yang membuat seseorang lalu menerima nasib secara pasif. Mungkin memang belum waktunya untukku, tetapi akan terjadi nanti pada anak cucuku. Ayem, kan?

Aku pernah jadi moderator sebuah seminar dengan pembicara Permadi nan Gerindra (sekarang). Waktu jamannya rezim represif masih bekerja, sehingga tak satupun penduduk di Surabaya bersedia menjadi moderator beliau, takut diciduk Kopkamtib. Cuma aku yang berani! Hebat? Enggaklah … kan ada honornya?

Sudah puluhan tahun silam Permadi bilang kalau ‘saat ini kita sudah masuk jaman Kalabendhu, saat di mana kemungkaran akan terjadi dan memasuki jaman pembersihan, pembilasan, agar dunia menjadi bersih’. Bahkan dia menyebutkan bahwa semuanya itu bisa dilihat dari tanda-tanda langit, dimana akan terjadi konjungsi planet apa lalu apa dan seterusnya.

Sudah puluihan tahun kemudian, kalai Permadi diminta ceramah, maka ya masih seperti itu yang ia bilang. Lalu aku pikir, konjungsi ini berapa lama terjadinya? Bukankah planet bergerak dengan kecepatan super tinggi. Jika sudah puluhan tahun silam ia bilang begitu, mestinya kan sudah selesai?

Jaman Kalabendhu adalah jaman terjadinya kesengsaraan. Namun kalau soal kesengsaraan, bukankah bukan saat ini saja terjadi? Dulu ada korban besar-besaran di kalangan rakyat, ketika membangun candi Borobudur? Aku bacanya melalui buku karangan Kho Ping Hoo yang ‘Darah Mengalir di Borobudur’.

Lalu ada korban kerja rodi, tanam paksa, bom atom Jepang, pembunuhan besar G30S, Tsunami, dan masih banyak lagi. Setting untuk jaman Kalabendhu ini lalu yang mana, agar munculnya Ratu Adil yang membahagiakan dunia segera terjadi?

Soal Ratu Adil, juga begitu, yang dalam agama tertentu disebut Imam Mahdi. Setidaknya sejak Juru Selamat lahir, kabar soal penyelamatan dunia akan terjadi. Lalu muncul agama yang katanya ‘rahmatan lil alamin’, juga demikian. Pernah ada yang tak sabar, lalu memunculkan Mirza Ghulam Ahmad, yang belakangan juga datang seperti Lia Aminuddin, dan sebangsanya.

Rasa-rasanya, aku akhirnua bependapat seperti di atas, bahwa semuanya itu tak lebih dari penciptaan mekanisme seperti pentil katup pengaman pada ban semata. Untuk meredam, tetapi bukan sebuah penyelesaian masalah. Apa lagi dengan jangka yang ratusan tahun selangnya, wah…. ngomong liyane ae, massss…..! Butuhnya kan sekarang?

Bahkan kalau otak kiriku yang bekerja, aku mungki perlu curiga, bahwa peramal-peramal itu sebenarnya adalah antek-antek penguasa, agar rakyatnya menjadi penurut bin penyabar belaka. Ada unsur subersif terhadap pola pikir. Ada sikap koruptif!

Lalu soal Nusantara, itu apa hanya Indonesia? Kalau jamannya Majapahit, maka yang masuk dalam negara taklukan dan dijadikan dasar sumpah Amukti Palapa, melipuyi pula Temasek (Singapura), hingga ke Champa. Siapa tahu siklus cakra manggilingan itu sebenarnya sudah terjadi, tetapi di sebagian wilayah Nusantara, yang sekarang bernama Singapura, Malaysia, Thailand? Mau protes sama Yosodipuro? Gimana caranya?

Salamku!”

Entry filed under: Budaya, pendidikan, spiritual. Tags: .

Sumur Sinaba Pasaran Panunggalan #2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: