Pasaran Panunggalan #2

November 6, 2013 at 10:26 am Tinggalkan komentar


PENANGGALAN JAWA

 

Lengkapnya Sistem Penanggalan Jawa

Romo Zoetmulder (1983), di bab 1 buku tulisannya yang berjudul Kalangwan, menunjukkan rumit dan kumplitnya sistem penanggalan Jawa, sehingga ungkapan yang diceritakan oleh seorang pencerita, dapat diperhitungkan tepat kapan kejadiannya dengan penanggalan Masehi. Romo Zoetmulder menunjukkan hal itu dengan narasi pada prasasti Sukabumi yang berbahasa Jawa Kuna, bahwa penanggalan Jawa sangat astronomis, dan meskipun kelihatannya rumit, dalam praktiknya sudah seperti “Kamus Hidup”.

Narasi prasasti Sukabumi dibuka dengan uraian: “Pada tahun 726 penanggalan Saka, dalam bulan Caitra, pada hari kesebelas paro terang, pada hari Haryang (hari kedua Paringkelan), Wage (hari keempat Pasaran), Saniscara (hari ketujuh Padinan)…. dan seterusnya…” yang  setelah diteliti informasi bulan (paro terang) dengan rumusan pasaran, paringkelan, padinan dan seterusnya, saat itu adalah tepat pada tanggal 25 Maret tahun 804 M. Seperti itulah salah satu contoh cara orang Jawa membuat catatan sejarah dari suatu peristiwa besar, yang entah bagaimana maksudnya sampai sedetail itu. Kebanyakan dari kita sekarang sudah tidak tahu lagi apa maksudnya Paringkelan itu, misalnya. Yang masih tersisa tinggal Pasaran dan Padinan. Itu pun sekarang tanpa pengetahuan praktis penggunaannya.

Padahal selain penanggalan, Jawa mengenal beberapa sistem hitungan hari, masih ada lagi kekayaan warisan nenek moyang terkait penanggalan ini, yaitu wuku, mangsa (musim), tahun, dan windu. Penanggalan Jawa memiliki hitungan sebagai berikut: 5 macam hitungan hari, 30 nama minggu dalam pengertian jangka waktu atau week (wuku), 12 nama bulan surya dan 12 perlambang musim (untuk bertani dan pelayaran), 8 nama tahun (oleh Sultan Agung nama-namanya diganti dengan huruf-2 Arab, nama asli dulunya belum terlacak lagi…), 4 nama windu, tetapi tanpa kenal angka tahun, karena memang tidak memiliki seorang tokoh penting dalam urusan kehidupannya.

Ya, mengapa harus menggunakan seseorang tokoh untuk menghitung tahun, jika sistem kalender itu adalah karya anonim? Apalagi jika suatu rumus kombinasi nama-nama hari, minggu, bulan, tahun dan windu tertentu mampu menentukan berapa umur sesuatu kondisi? Sebut saja misalnya hari ini (saat posting ini saya update), Sabtu 3 Januari 2015 (12 Rabiul Awal, 1436 H atau 12 Mulud 1948 J) yang merupakan paduan dari “Saniscara (Sabtu), Pahing, Tungle, Sri, Kerangan” jatuh pada wuku Langkir, bagian dari musim Palguna, dan bulan “Mulud” dari tahun “Ehe”  dalam Windu Sengara, maka formula hari semacam itu akan berulang pada hari yang ke: 7 x 5 x 6 x 8 x 9 (kombinasi nama-nama hari dari 5 macam siklus hari) x 30 (nama wuku) x 12 (musim) x 12 (bulan) x 8 (tahun dalam 1 windu) x 4 (jumlah nama windu) =   2,090,188,800 hari kemudian. Jadi kira-kira 5,726,545 tahun yang akan datang dengan hitungan tahun matahari, kombinasi penanggalan kumplitnya baru berulang.

Tinggal dua Tatanama Hari

Jika kita membaca tanggalan jaman sekarang, kadang-kadang kita temukan dua sistem penamaan hari, yaitu yang dengan hitungan lima harian dan tujuh harian. Bahkan yang paling banyak sekarang hanya memuat satu sistem penamaan hari yaitu tujuh harian seminggu: Ahad (Minggu), Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Sistem hitungan lima harian dikenal dengan nama Pasaran, yaitu: Legi, Pahing, Pon, Wage dan Kliwon. Namun demikian “pasaran” hanya tinggal nama, tanpa ada pemaknaan kegunaannya.

Hal ini terjadi, kemungkinan besar karena berubahnya sistem kalender yang digunakan di Indonesia, yang masih lumayan, tidak hanya berdasarkan kalender Masehi yang solar (berdasar matahari, sebenarnya rotasi dan revolusi bumi terhadap matahari), tetapi juga kalender Jawa yang lunar (berdasar peredaran bulan mengelilingi bumi). Padahal, peradaban Jawa memiliki sistem kalender yang sangat lengkap. Untuk hitungan hari ada lima sistem penghitungan, seperti yang disajikan pada Tabel 1 berikut.

Tabel 1. Nama-nama Hari dalam Penghitungan Hari Penanggalan Jawa.

5 Harian (Pasaran)

6 Harian (Paringkelan)

7 Harian (Padinan)

8 Harian (Padewan)

9 Harian (Padangon)

  Legi  Tungle (daun)  Radhite  Sri  Dangu (batu)
  Pahing  Aryang (manusia)  Soma  Indra

 Jagur
(macan)

  Pon  Wurukung  (ternak)  Anggara  Guru  Gigis
(bumi)
  Wage  Paningron
(ikan)
 Budha  Yama  Kerangan (matahari)
  Kliwon  Uwas
(burung)
 Respati  Rudra  Nohan
(bulan)
 Mawulu
(benih)
 Sukra  Brama  Wogan
(ulat)
 Sanisçara  Kala  Tulus
(air)
 Uma  Wurung
(api)
 Dadi
(kayu)

Konferensi kebudayaan Jawa (waktu itu) berlangsung tanggal 20 hingga 25 Oktober 2008, yang jika dihitung dengan sistem perhitungan hari lengkap memiliki ordinat hari sebagai berikut:

Tabel 2. Hitungan Hari Penyelenggaraan KIKJ 2008

Tanggal

Pasaran

Paringkelan

Padinan

Padewan

Padangon

 20 Oktober  Legi  Wurukung  Soma  Sri  Wogan
 21 Oktober  Pahing  Paningron  Anggara  Indra  Tulus
 22 Oktober  Pon  Uwas  Budha  Guru  Wurung
 23 Oktober  Wage  Mawulu  Respati  Yama  Dadi
 24 Oktober  Kliwon  Tungle  Sukra  Rudra  Dangu
 25 Oktober  Legi  Aryang  Sanisçara  Brama  Jagur

Pada makalah ini, penulis tidak ingin membahas satu persatu dari sistem hitungan hari di atas, namun ingin menyatakan bahwa dalam nama-nama “hari” diatas telah diberi makna simbolik oleh nenek moyang Jawa. Selain itu, dua macam hitungan hari yaitu Pasaran dan Paringkelan, rupa-rupanya pernah digunakan sebagai pedoman berkehidupan di masyarakat. Tidak sekedar menentukan hari libur dan hari kerja, kapan beribadah, kapan hari bebas, melainkan lebih menyangkut pada kegiatan perekonomian masyarakat. Berhubung pokok bahasan tulisan ini adalah tentang Pasaran, maka mari kita coba kaji simbol-simbol yang telah diberikan oleh nenek moyang Jawa kepada setiap “hari pasaran” yang gunanya untuk memberi gambaran sikap dan sifat seseorang dengan kelahiran “hari pasaran”, sebagai berikut.

Tabel 3. Simbol atau Pasemon “Hari” Pasaran

Hari

Pasemon

Watak Hewan

Legi Sumendhi ngibarate Ratu Bupati (mengayomi, sanggup, lapang dada, ikhlas) Kucing (jinak, awas, curigaan) dan Tikus (awas tapi bingungan, betah melek)
Pahing Cendhana (sangat etungan untung-rugi) Macan (jauh jangkauannya, individualis)
Pon Samahita lakuning utusan (jinak budinya, petuahnya banyak diturut, serius) Domba/Kambing (tidak jauh bermainnya, hanya menikmati miliknya sendiri)
Wage Prabuanom lakuning dhandhang (cakap tetapi angkuh) Sapi (jinak, semaunya yang memerintahkan jadi, harus dipelihara, ngeyel)
Kliwon Wisa marta durjana tengah (ada baiknya tapi juga ada jeleknya, pandai bicara) Monyet dan Anjing (sulit dijinakkan, tetapi kalau jinak sangat setia)

Selain Pasaran, hitungan hari Paringkelan, kelihatannya pernah dijadikan pedoman dalam mencari nafkah. Perkiraan penulis, penerapan Paringkelan itu kemungkinan memandu pemusatan perhatian (fokus) pada aspek-aspek pencarian nafkah, yang berbermakmakna penghindaran karena RINGKEL berarti SIAL, sebagai berikut:

  1. Tunglé (daun) memandu masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas  yang terkait dengan tanaman
  2. Aryang (manusia) untuk tidak menjadikannya sebagai hari berkegiatan sosial bermasyarakat
  3. Wurukung (hewan ternak/rajakaya) hari sial untuk hewan (disembelih dan dijual) maka baik untuk fokus  dalam pemasaran ternak rajakaya (kerbau, sapi, kuda, kambing, domba)
  4. Paningron (ikan air tawar) bukan hari baik untuk melaut, misalnya
  5. Uwas (unggas) bukan hari baik untuk usaha peternakan unggas
  6. Mawulu (benih) bukan hari baik untuk melakukan  penanaman

Maksud dari fokus tersebut, bukan berarti pada “hari paringkelan” tertentu semua orang bekerja pada pekerjaan yang sama, melainkan pada hari-hari itulah saat yang tepat melakukan usaha-usaha terkait dengan lambang paringkelan sesuai dengan “profesi” masing-masing. Misalnya seorang petani penanam padi, maka penyebaran benih dilakukan pada hari Mawulu, kemudian setiap 6 hari ke sawah memelihara tanaman pada hari Tunglé.

Hitungan 6 harian ini ternyata juga berlaku di Jepang, dengan sistem hitungan “Rokuyou”-nya. Roku adalah enam (6), you adalah sebutan hari. Keenam nama hari dalam rokuyou adalah sebagai berikut:

  • 1. Senshou (hari selamat dan banyak harapan untuk memulai bisnis baru)
  • 2. Tomibiki (hari tidak baik untuk bisnis dan pemakaman)
  • 3. Senbu (kebalikan dari Senshou)
  • 4. Butsumetsu (hari yang dipercaya sebagai hari wafat Buddha)
  • 5. Taian (hari paling baik untuk segala urusan; setiap peristiwa penting seperti pelantikan kabinet, peresmian pabrik dan lain-lain di Jepang biasanya ditepatkan pada hari Taian ini.)

Ketika penulis tinggal di Ishigakijima, Okinawa, hitungan Rokuyou ini dipergunakan sebagai hari pasaran. Pada hari Taian maka para peternak sapi mendatangi pasar hewan untuk bertransaksi segala macam urusan peternakan sapi. Sekarang bagaimana di Jawa?

Seperti judul sub-bab di atas, pertanyaannya adalah mengapa tinggal dua sistem hitungan hari yang tersisa di Penanggalan Jawa? Apakah tidak mungkin (meskipun tinggal dua macam) kita hidupkan lagi penerapannya di masyarakat? Mari kita telisik bersama.

Entry filed under: Budaya, pendidikan, spiritual. Tags: , , , , , .

Eskapisme dan Cara Aman Penyajiannya Indonesia Maritim: Berakhirnya Tipuan Ajisaka #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: