Indonesia Maritim: Berakhirnya Tipuan Ajisaka #1

Agustus 22, 2014 at 3:02 pm Tinggalkan komentar


oleh: Radar Panca Dahana
OLYMPUS DIGITAL CAMERATampaknya buku-buku sejarah Indonesia yang ada saat ini memang harus dihanguskan dan ditulis kembali dengan cara dan pendekatan yang sama sekali berbeda. Bukan juga hanya dengan sekadar menambahkan betapa di masa lalu, satu setengah milenium lalu, bangsa ini sudah memiliki armada maritim yang kuat di kerajaan Sriwijaya hingga Majapahit. Apalagi bukan dengan sebuah awalan yang mistis, ketika Ajisaka yang menurut Mangkunegara IV mendarat di pulau Jawa pada 78 M untuk mengadabkan bangsa-bangsa di kepulauan ini.
Lebih jauh dari itu. Lebih jauh bahkan dari perkiraan saya sendiri, ketika membaca karya masterpiece sejarawan Perancis, Dennys Lombard, Le Cerrefour Javanais, sepuluh tahun lalu, dimana saya temukan data yang mengatakan adanya ekspedisi laut dari Jawa mendatangi Afrika dengan membawa hasil-hasil bumi berharga (emas, pala, pisang dll) untuk ditukarkan budak, pada 100 SM. Kisah yang ditulis oleh geograf Yunani asal Mesir, Ptolemeus (110 AD) itu, memberikan kita sebuah sugesti tentang sebuah kerajaan kuna di Jawa yang sudah cukup advance, bahkan tingkat perdagangannya, hingga ia membutuhkan budak, jauh abad sebelum Eropa, apalagi Amerika memerlukannya.
Data mutahir dari para ahli maritim, baik tentang Afrika, Eropa atau Asia Tenggara, menghasilkan temuan-temuan yang sangat mengejutkan. Temuan yang menunjukkan betapa bangsa Indonesia adalah bangsa maritim yang diakui, dijadikan acuan bahkan disegani bangsa-bangsa (berperadaban tunggi) lainnya di dunia, seperti Mesir, India, Cina hingga Eropa. Dan hal itu sudah dimulai dari suatu tarikh yang dalam imajinasi pun sulit kita menjangkaunya: 60,000 tahun yang lalu.
Di masa itu, sekumpulan manusia Australo-Melanesia yang berkebun dan berladang, keturunan langsung dari penghuni asal, Homo erectusyang diketemukan fosilnya di Solo, mendiami dataran Sunda, melakukan perjalanan sulit ke daerah kosong di dataran Sahul, memanfaatkan siklus alam yang membuat permukaan laut turun hingga 50m dari pantai. Dan ajaib, dengan teknologi perkapalan sederhana, mereka berhasil mengarungi 70 km laut hingga Australia dan Nugini, untuk menjadi nenek moyang dari bangsa Aborigin di sana.
Pada 35,000 tahun yang lalu, manusia yang sama, kembali melakukan perjalanan samudera ke kepulauan Admiralty di gugusan kepulauan Bismarck yang berjarak 200 km. Bandingkan dengan fakta bangsa Eropa menghuni pulau Siprus dan Kreta pertama kalinya, baru pada 8,000 tahun lalu dengan jarak yang tak lebih dari 80 km. Dan Penjelajahan bangsa purba Indonesia tidak berhenti, hingga 5,500 tahun yang lalu mereka menyeberangi Pasifik untuk mencapai dan berdiam di pulau Fiji, pulau Paskah (salah satu tempat terpencil di muka bumi), bahkan Hawaii dan dua pulau besar di Selandia Baru.
Penjelajahan terakhir di atas dilakukan oleh pendatang berbahasaMongoloid-Austronesia yang datang dari Formoza (Taiwan). Melewati selat Luzon mereka datang ke Nusantara membawa teknik pertanian “tebang dan bakar” serta perahu bercadik sebagai alat penyeimbang. Di kepulauan besar itulah mereka bertemu, bergaul, bercampur dan bersilang budaya serta keturunan dengan bangsa Australo-Melanesia asal paparan Sunda, untuk kemudian mengembangkan sistem genetika, bahasa dan sistem budaya yang rumit. Sistem yang merupakan pencampuran kulit putih/kuning dan kulit gelap yang bagi banyak ahli “hingga saat ini masih saja memperumit penentuan pola rasial di Indonesia” (hal ini akan dibicarakan kemudian).
Yang jelas, di saat yang bersamaan nenek moyang bangsa Indonesia ini tidak hanya melakukan pelayaran dan penjelajahan mengagumkan ke Timur, melintasi Pasifik, tetapi juga ke Barat menembus Samudera Hindia. Banyak catatan para ahli yang mengatakan bagaimana mereka akhirnya mendiami dan membangun kultur tersendiri di Madagaskar, membentuk bansa Afro-Indonesia, karena pergaulan ketatnya dengan bangsa-bangsa Afrika. Suatu catatan bahkan mengisahkan bagaimana orang Madagaskar yang bahasanya “asing” menyatroni shamba-shamba dan desa-desa di pantai Timur Afrika untuk menjarah dan memperoleh budak.

Dalam literatur arkeologi tersebut bangsa Zanj (asal kata yang melahirkan Azania, Zanzibar atau Tanzania) di Afrika Timur, yang tidak lain adalah keturunan Afro-Indonesia dan menetap untuk berkolaborasi dengan orang Zimbabwe, jauh abad sebelum Arab dan Swahili datang ke sana. Keberadaan orang Afro-Indonesia mengesankan, karena mereka terlibat dalam pertambangan emas, hasil bumi yang membuat Zimbabwe begitu terkenal hingga paruh pertama milenium baru, masa yang sama dengan kerajaan Sriwijayadi Swarnadwipa (Pulau Emas).

Entry filed under: Budaya, lain-lain, pendidikan, pertanian, spiritual. Tags: , , , , , , , , .

Pasaran Panunggalan #2 Indonesia Maritim #2: Indonesia dalam Bible

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Menerima

  • 24,721 kunjungan

Klik tertinggi

  • Tak ada

KDP Web Blog

Blog Ki Denggleng. Memuat berbagai tulisan KDP dan Mitra

Pos-pos Terbaru


%d blogger menyukai ini: